Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Campaka Dan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan lahan rencana bangunan di Kecamatan Cibeber dan gerakan tanah di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan surat permohonan dari BadanPenanggulanganBencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, No. : 362 / 485 / BPBD / 2017, tanggal 27 Desember 2017 perihal Permohonan Kajian Tanah di Kecamatan Campaka dan No. : 362 /09 /BPBD / 2018, tanggal 3 Januari 2018, perihal penelitian/pengkajian gerakan tanah di Kecamatan Pagelaran, sebagai berikut :

A. Kecamatan Campaka.

 1. Lokasi :

Rencana lahan calon lokasi lahan bangunan terletak di Kp. Cimapag, Desa Cidadap, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Secara geografis daerah  ini berada pada koordinat  107° 08' 31,8" BT dan 07° 01' 16,1" LS.

Kondisi lahan merupakan punggungan-punggungan perbukitan bergelombang dan diantaranya terdapat lembah-lembah dengan dataran yang sempit 

 

2.   Kondisi Lahan : 

  • Morfologi, Morfologi di calon lahan bangunan merupakan punggungan-punggungan dari perbukitan bergelombang  lemah – sedang dengan kemiringan lereng antara 5 - 200, setempat mempunyai kemiringan > 350 dan mempunyai ketinggian antara 1000 m – 1060 m di atas permukaan laut.  Pada beberapa tempat telah dilakukan pemotongan puncak punggungan dan materialnya diurugkan ke tebing punggungan dengan kemiringan terjal – curan ( 30 - > 400).  Lokasi lahan    pedataran,  dengan  kemiringan lereng landai antara  5º sampai10º. Pada antar punggungan terdapat lembah-lembah yang diantaranya relatif datar  dengan kemiringan terjal 5º sampai 10º.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, daerah ini disusun oleh perselingan antara batu lempung dan batu lanau, berlapis, padat, bagian permukaan lapuk, berwarna coklat hingga coklat kemerahan, dengan tanah pelapukan berupa lempung, coklat – coklat kemerahan, lunak, agak lengket, tebal antara 2 – 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (M. Koesmono, dkk., 1996), daerah ini disusun oleh satuan batuan Formasi Cimandiri (Tmc) yang terdiri dari : perselingan batu lempung dan batu lanau yang berumur Tersier. Struktur geologi berupa patahan (sesar), lipatan (fold) dan kekar (retakan) tidak dijumpai di daerah pemeriksaan.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi berupa air permukaan (run off) pada waktu musim hujan yang mengalir bebas di permukaan. Air tanahnya berupa air tanah dangkal berkedalaman antara 2 – 3 m di daerah lembah dan antara 8 – 10 m di bagian punggungan. Sedangkan sumber mata air terletak tidak jauh dari lokasi ini (berjarak sekitar 2 km). Apabila terjadi hujan (pada lokasi yang sudah dibangun), air permukaan akan menggenangi/ mengalir di permukaan dan akhirnya mengalir bebas pada lereng, sehingga akan menjenuhi tanah timbunan pada lereng dan rawan longsor .
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan di daerah pemeriksaan pada bagian atas berupa : ladang/tegalan dan kebun campuran; pada bagian tengah berupa tegalan dan kebun campuran; sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran, ladang dan setempat-setempat pemukiman. Pemukiman pada umumnya berkelompok dan terletak di bawah lereng. Pada saat dilakukan pemeriksaan pada salah satu punggungan telah dilakukan pemotongan dan penimbunan lereng (cut and fill) dan dibangunan bangunan kantor kecamatan dan mess Pemda, dimana penimbunan dilakukan pada lereng dan umumnya belum dipadatkan, sehingga rawan longsor; sedangkan pada beberapa lokasi yang lain sedang dilakukan pembersihan lahan (land clearing). Untuk masuk ke wilayah lokasi dibuat jalan masuk dan antara bukit (bangunan) satu dengan yang lain dihubungkan dengan jalan yang sedang dibangun
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah calon lahan bangunan ini terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah

Longsoran dijumpai pada lokasi yang sudah dibangun (sebelah timur kantor camat), berupa longsoran dari tanah timbunan  berukuran panjang 23 m, lebar 18 m, tinggi gawir 0,7 – 1,5 m dengan arah N 380 (sepanjang lereng tanah timbunan berpotensi longsor). Selain itu longsoran-longsoran kecil terdapat pada lereng tanah asli di sebelah barat mess Pemda. Longsoran kecil dengan panjang 3 - 5 m, lebar 2 - 4 m, tinggi gawir  < 0,5 m serta pemotongan tebing pada rencana jalan yang terlalu terjal dan tinggi.

  

4. Kesimpulan dan Rekomendasi 

a. Kesimpulan:

Berdasarkan kondisi geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah dan fasilitas umum yang menunjang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Lokasi ini dapat dijadikan lahan untuk bangunan dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi (lihat rekomendasi)
  • Lokasi bangunan didirikan pada tanah asli (kupasan), sedang pada tanah timbunan tidak untuk bangunan

 

b.  Rekomendasi :

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya gerakan tanah dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan :

  • Melakukan penanaman pohon besar yang berakar kuat dan dalam, pada bagian tebing – tebing terjal.
  • Bangunan ditempatkan pada tanah asli (bukan tanah urugan)
  • Penataan drainase dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tidak membuat kolam dan penampungan air pada bagian atas dan lereng bagian tengah
  • Melandaikan lereng < 300 dan   dibuat berjenjang (undak) kurang dari 2 m termasuk tanah urugan
  • Buat tembok penahan dengan beton bertulang pada kaki lereng (terutama pada timbunan tanah urugan), dimana dasarnya masuk ke dalam tanah asli
  • Bangunan dibuat menjauhi lereng (terutama lereng tanah urugan) dan berjarak sekitar 15 meter
  • Hindari pembuatan bangunan pada tanah urugan/timbunan
  • Memadatkan tanah timbunan pada lereng
  • Sistem penampungan limbah(septic tank) dibuat kedap dan dirancang dengan sistem kelompok.
  • Menanami lereng dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng agar tidak longsor
  • Untuk bangunan besar (lebih dari 2 lantai) perlu kajian geoteknik yang lebih detail

 

B. Lokasi – 2 ( Kecamatan Pagelaran )

a.   Dusun Pogor

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Dusun Pogor, Desa Bunijaya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 01’ 16,7” LS dan 107° 08’ 33,2” BT. Waktu kejadian dimulai pada bulan November 2017 (musim hujan) sampai sekarang

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan dengan adanya nendatan, longsoran bahan rombakan dan retakan dengan arah umum N 270° E (relatif ke arah lembah Kali Cibadak).

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 75 (tujuh puluh lima) rumah dan 1 (satu) masjid rusak
  • puluhan rumahlainya terancam

 

4. Kondisi Daerah Bencana
  • Morfologi, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng agak landai dengan kemiringan lereng antara 3 – 100 setempat lebih dari 300.
  • Kondisi geologi, Dari hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan penyusun daerah bencana pada bagian atas berupa tuf lapili dan breksi tuf lapuk lanjut sampai lapuk sempurna berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 4 meter; sedangkan di bagian bawah berupa breksi vulkanik (breksi andesit dan breksi tufa), abu-abu kecoklatan – kehitaman, lapuk sedang, kompak, keras. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa, (M. Koesmono, dkk., Puslitbang Geologi, 1996), daerah bencana disusun oleh Endapan Piroklastik Tak Terpisahkan (Qtv) yang terdiri dari breksi andesit, breksi tuf dan tuf lapili. Struktur geologi berupa patahan (sesar) normal dengan arah barat daya – timur laut terdapat di sebelah timur lokasi bencana.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada lereng bagian atas dan tengah berupa sawah,  permukiman,  kebun campuran dan banyak kolam-kolam ikan; sedangkan pada lereng bagian bawah berupa sawah dan sedikit kebun campuran.
  • Keairan, Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan, air kolam dan air sawah/irigasi yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air sumur yang berasal dari sumur gali dengan kedalaman rata-rata 1,2 meter.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Cianjur pada Bulan Januari 2018  (PVMBG), Kecamatan Pagelaran terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah - Tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah
  • Sifat fisik batuan yang kurang padu, sarang serta tanah pelapukan yang tebal (lebih dari 4 meter), bersifat sarang, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Adanya longsoran-longsoran kecil pada kaki lereng Kali Cidadap akibat erosi  tebing oleh air sungai (pada saat banjir).
  • Adanya kolam-kolam dan lahan sawah yang menyebabkan tanah selalu jenuh air dan mudah bergerak
  • Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan yang tebal dan jenuh air dan batuan keras (breksi vulkanik) yang relatif lebih kedap air.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air irigasi mengalir bebas dan meresap ke dalam tanah
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya aliran air permukaan (air hujan) serta adanya kolam-kolam dan lahan sawah mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan, menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Adanya longsoran-longsoran pada kaki lereng akibat erosi sungai dan longsoran tebing serta adanya bidang lincir (antara tanah pelapukan dan breksi vulkanik yang lebih kedap air) serta kemiringan lereng yang landai - agak terjal, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilan rayapan (longsoran dengan pergerakan lambat) disertai dengan retakan dan nendatan yang merusakan bangunan rumah-rumah di daerah tersebut. Gerakan tanah ini akan dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, dan merusakkan rumah-rumah penduduk, meskipun sifat pergerakanya lambat.   Gerakan tanah di daerah ini berjalan lambat karena kemiringan lerengnya yang agak landai.

 

7. Kesimpulan
  • Daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah
  • Jenis gerakan tanahnya berupa rayapan yang pergerakanya berjalan lambat disertai dengan retakan-retakan

 

8. Rekomendasi Teknis
  • Gerakan tanah akan selalu terjadi pada setiap musim hujan, maka masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya perlu waspada, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata saluran irigasi dan air permukaan serta air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Menanami daerah bencana dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng (jati, mahoni, sono keling, durian dan lain-lain).
  • Rumah yang lebih tahan adalah rumah panggung dengan konstruksi kayu
  • Rumah-rumah perlu di relokasi ke lokasi aman, dan apabila hal ini tidak dilakukan, maka :
    • Lahan sawah harus dikeringkan diganti dengan palawija dan tanaman perkebunan (tanaman keras)
    • Kolam-kolam (genangan air) harus dikeringkan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

b.  Dusun Simpang

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Dusun Simpang, Desa Bunijaya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 08’ 50,6” LS dan 107° 10’ 41,3” BT. serta  07° 08’ 50,4” LS dan 107° 10’ 36,8” BT

Waktu kejadian dimulai pada awal bulan November 2017 (musim hujan)

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan dengan adanya retakan, nendatan, longsoran bahan rombakan dengan arah umum N 336° E (relatif ke arah lembah Kali Cibadak). 

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • puluhan rumah dan beberapa bangunan infra struktur (masjid dan lain-lain) rusak
  • puluhan rumah lainya terancam

 

4. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang lemah dengan kemiringan lereng agak landai dengan kemiringan lereng antara 3 – 100 setempat lebih dari 300.
  • Kondisi geologi, Dari hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan penyusun daerah bencana pada bagian atas berupa tuf lapili dan breksi tuf lapuk lanjut sampai lapuk sempurna berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 4 meter; sedangkan di bagian bawah berupa breksi vulkanikt lapuk sedang, kompak, keras. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa, (M. Koesmono, dkk., Puslitbang Geologi, 1996), daerah bencana disusun oleh Endapan Piroklastik Tak Terpisahkan (Qtv) yang terdiri dari breksi andesit, breksi tuf dan tuf lapili. Struktur geologi berupa patahan (sesar) geser normal dengan arah barat daya – timur laut terdapat di sebelah timur lokasi bencana.
  • Tata guna lahan, Tata lahan pada lereng bagian atas dan tengah berupa sawah,  permukiman,  kebun campuran dan banyak kolam-kolam ikan;   sedangkan pada lereng bagian bawah berupa sawah dan sedikit kebun campuran.
  • Keairan, Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan, air kolam dan air sawah/irigasi yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air sumur yang berasal dari sumur gali dengan kedalaman antara 1,0 - 1,5 meter.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Cianjur pada Bulan Januari 2018  (PVMBG), Kecamatan Pagelaran terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik batuan yang kurang padu, sarang serta tanah pelapukan yang tebal (lebih dari 4 meter), bersifat sarang, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Adanya kolam-kolam dan lahan sawah yang menyebabkan tanah selalu jenuh air dan mudah bergerak
  • Adanya bidang lincir antara tanah pelapukan yang tebal dan jenuh air dan batuan keras yang relatif lebih kedap air.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air irigasi mengalir bebas dan meresap ke dalam tanah
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya aliran air permukaan (air hujan) serta adanya kolam-kolam dan lahan sawah mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan, menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Adanya longsoran-longsoran pada kaki lereng akibat erosi tebing serta adanya bidang lincir (antara tanah pelapukan dan breksi andesit yang lebih kedap air) serta kemiringan lereng yang landai - agak terjal, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilan rayapan (longsoran dengan pergerakan lambat) disertai dengan retakan dan nendatan yang merusakan bangunan rumah-rumah di daerah tersebut. Gerakan tanah ini akan dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, dan merusakkan rumah-rumah penduduk, meskipun sifat pergerakanya lambat.

 

7. Kesimpulan

  • Daerah ini berpotensi terjadi gerakan tanah
  • Jenis gerakan tanahnya berupa rayapan yang pergerakanya berjalan lambat disertai dengan retakan-retakan

 

8. Rekomendasi Teknis

  • Gerakan tanah akan selalu terjadi pada setiap musim hujan, maka masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya perlu waspada, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata saluran irigasi dan air permukaan serta air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Menanami daerah bencana dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng (jati, mahoni, sono keling, durian dan lain-lain).
  • Rumah yang lebih tahan adalah rumah panggung dengan konstruksi kayu
  • Rumah-rumah perlu di relokasi ke lokasi aman, bila tidak dilakukan maka :
    • Lahan sawah harus dikeringkan diganti dengan palawija dan atau tanaman perkebunan (tanaman keras)
    • Kolam-kolam (genangan air) harus dikeringkan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Cianjur 1 (240118)

Gambar – 1 : Peta Lokasi Lahan Perkantoran di Kp. Cimapag, Desa Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 2 (240118)

Gambar – 2 : Peta Geologi Wilayah Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur

 

Cianjur 3 (240118)

Gambar – 3 : Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur

 

Cianjur 4 (240118)

Gambar – 4 : Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Pada Bulan Januari 2018 Kabupaten Cianjur

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN JANUARI 2018

Cianjur 5 (240118)

 

Cianjur 6 (240118)

Gambar – 5 : Peta Situasi Lahan Perkantoran di Kp. Cimapag, Desa Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 7 (240118)

Gambar – 6 : Penampang A – B  Lahan Perkantoran di Kp. Cimapag, Desa Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 8 (240118)

Gambar –  7 : Penampang C – D  Lahan Perkantoran di Kp. Cimapag, Desa Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 9 (240118)

Gambar – 8 : Peta Lokasi Gerakan Tanah di Kp. Simpang, Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 10 (240118)

Gambar – 9 : Peta Geologi Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur

 

Cianjur 11 (240118)

Gambar – 10 : Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Simpang, Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 12 (240118)

Gambar – 11 : Penampang A – B  Gerakan Tanah di Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 13 (240118)

Gambar – 12 : Penampang C – C Gerakan Tanah di Kp. Simpang, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 14 (240118)

Foto - 1 : Kondisi tanah timbunan (hasil urugan) di dekat bangunan kantor Camat Di Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka, yang berlereng curam dan mudah longsor

 

Cianjur 15 (240118)

Foto - 2 : Kondisi tanah timbunan (hasil urugan) di dekat bangunan kantor Camat di Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka, yang berlereng curam dan mudah longsor

 

Cianjur 16 (240118)

Foto - 3 : Kondisi tanah timbunan (hasil urugan) di dekat bangunan Mess Pemda Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka  yang berlereng curam dan mudah longsor

 

Cianjur 17 (240118)

Foto - 4 : Longsoran yang terjadi pada tanah timbunan di Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 18 (240118)

Foto - 5 : Kenampakan longsoran pada lereng  di sebelah barat rencana Mess Pemda di Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 19 (240118)

Foto - 6 : Kondisi pemukiman yang berada di bawah lereng (asli) yang berada di belakang bangunan rencana kantor Camat Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 20 (240118)

Foto - 7 : Pemotongan lereng yang terjal untuk pelebaran jalan masuk ke komplek pembangunan Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 21 (240118)

Foto - 8 : Kondisi jalan asli di wilayah Komplek pembangunan Kp. Cimapag, Ds. Cidadap, Kec. Campaka, Kab. Cianjur

 

Cianjur 22 (240118)

Foto - 9 : Kondisi retakan yang terjadi pada rumah tembok di  Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 23 (240118)

Foto - 10 :    Kondisi retakan yang berkembang menjadi longsoran dan mengancam rumah di Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 24 (240118)

Foto - 11 :  Kolam-kolam ikan yang banyak terdapat di  Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur, menyebabkan tanah menjadi sealu jenuh air

 

Cianjur 25 (240118)

Foto - 12 : Kenampakan rumah panggung yang miring akibat gerakan tanah di Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 26 (240118)

Foto - 13 : Kondisi retakan yang terjadi di Kp. Pogor, Desa Bunisari, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 27 (240118)

Foto - 14 : Kondisi rumah panggung yang lebih aman terhadap bencana gerakan tanah di bandingkan dengan rumah tembo/beton

 

Cianjur 28 (240118)

Foto - 15 : Kolam-kolam ikan yang banyak terdapat di di Kp. Pogor, Ds. Bunijaya, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 29 (240118)

Foto - 16: Lahan sawah yang banyak terdapat di di Kp. Pogor, Ds. Bunijaya, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 30 (240118)

Foto - 17 : Retakan yang terjadi pada tembok masjid di Kp. Simpang, Ds. Bunijaya, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 31 (240118)

Foto - 18 : Retakan yang terjadi pada lantai masjid di Kp. Simpang, Ds. Bunijaya, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 32 (240118)

Foto - 19 : Retakan yang terjadi padatebing jalan di Kp. Simpang, Ds. Bunijaya, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur

 

Cianjur 33 (240118)

Foto - 20 : Rumah-rumah yang hamper roboh akibat gerakan tanah di Kp. Simpang, Ds. Bunisari, Kec. Pagelaran

 

Cianjur 34 (240118)

Foto - 21 : Lahan sawah yang banyak terdapat di di Kp. Simpang, Ds. Bunijaya, Kec. Pagelaran, Kab. Cianjur