Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Lahan Relokasi Di Dusun Pramen, Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa,kabupaten Banjarnegar Provinsi Jawa Tengah

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah dan Penyelidikan tempat relokasi di Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Cek Lokasi/ Kajian Gerakan Tanah dari BPBD Banjarnegara. Hasil pemeriksaan sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Pramen, Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat : 7° 17' 3,69" LS dan  109° 44' 42,66" BT. Gerakan tanah awalnya bertipe rayapan kemudian berubah tipe menjadi longsoran karena banyaknya mata air yang ada dibalokasi ini kemudian menjadi aliran (Flow Slide).

 

2,  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang-kuat dengan kemiringan lereng 25 - 40°  dibeberapa tempat kelerengan lebih dari >40°. Ketinggian lokasi ini terletak antara 900- 1200 m dpl. Pada bagian timur lokasi ini banyak dijumai longsoran-longsoran lama.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana pada bagian bawah berupa perselingan serpih, napal dan batupasir gampingan (bagian dari Formasi Rambatan), secara setempat terdapat lapisan lempung abu-abu tua, lunak, gembur dan mudah membubur bila jenuh air. Pada lokasi bencana merupakan kontak antara batuan gunungapi yang berupa bahan rombakan gunungapi dan breksi (Formasi Jembangan).  Pada lokasi bencana Napal bersifal pecah-pecah ketika kering. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa (W.H. Condon, dkk., Puslitbang Geologi 1996), batuan penyusun daerah bencana di bagian bawah termasuk  Formasi Rambatan yang terdiri dari serpih dan napal dan batupasiur gampingan (Tmr). Struktur geologi yang terdapat di daerah bencana berupa sesar (patahan) geser berarah relatif timur laut – barat daya, serta sesar-sesar kecil dengan araf relatif utara-selatan.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunakan air dari mata air. Ciri khas daerah ini jika musim hujan muka air tanah dangkal namun jika musim kemarau, muka air tanah menjadi sangat dalam. Muka air tanah sangat melimpah di lokasi bencana ini (terdapat 4 mata air pada lokasi bencana)
  • Tata guna lahan, Pada lereng bagian atas berupa pemukiman dan ladang dan kebun salak. Sedangkan lereng bagian bawah merupakan kebun salak dan kebun campuran.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara lokasi bencana terletak pada Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi dan Menengah. Sedangkan Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara bulan Januari 2018 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Kondisi Bencana dan Akibat yang Ditimbulkan :

Gerakan tanah yang terjadi di Dusun Pramen, Desa Bantar Gerakan tanah awalnya bertipe rayapan kemudian berubah tipe menjadi longsoran karena banyaknya mata air yang ada di lokasi ini kemudian menjadi aliran (Flow Slide). Hal ini karena kondisi geologi berupa lempung lanau warna abu-abu tua, dan lereng yang terjal ( 25 – 40°) dan serta banyak dijumpai mata air yang ada dilokasi bencana serta dipicu sehingga terjadi perubahan tipe dari rayapan ke longsoran kemudian menjadi aliran.  Panjang gerakan tanah sampai daerah terlanda mencapai 650 meter, lebar bagian mahkota 89 m dengan area seluas 5,8 Ha. Dampak bencana menyebabkan :

  • 52 (limapuluh dua) rumah dan 1 masjid terdampak (rumah rusak dan retak-retak) serta berada pada daerah yang berpotensi terjadi longsoran susulan.
  • Jalan Utama dari Desa Bantar Ke Desa Suwidak terputus total
  • Desa Suwidak terisolir

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Sifat batuan berupa serpih, napal serta batulempung warna abu-abu kehijauan yang merupakan bidang gelicir gerakan tanah.
  • Banyaknya mata air di lokasi ini menyebabkan lapisan lempung (lensa lempung) yang membubur bila jenuh air
  • Kemiringan lereng yang terjal.
  • Kontak batuan gunungapi dengan batulempung, serpih Formasi Rambatan
  • Limpasan air hujan (run off) yang menyebabkan lapisan batuan/tanah pelapukan menjadi jenuh air dan mudah bergerak.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

4. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Kondisi geologi berupa kontak batuan gunungapi dengan serpih, napal, batupasir gampingan serta lensa-lensa lempung warna abu-abu kehijau pada kelerengan yang terjal serta melimpahnya air dari beberapa sumber mata air turut mengontrol kejadian gerakan tanah di daerah ini. Curah hujan yang tinggi serta kondisi morfologi berupa lembahan menyebabkan air hujan mudah terakumulasi pada zona ini.  Akibatnya kondisi tanah dan batuan jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak). Lempung abu-abu yang berada dibawah endapan gunungapi mudah membubur karena jenuh air sehingga menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Karakteristik napal, serpih dan lapisan lempung tersebut menyebabkan gerakan tanah awal berupa rayapan, namun karena kemiringan lereng yang terjal dan jenuh air sehingga terjadi perubahan gerakan dari tipe lambat (rayapan) menjadi longsoran disertai aliran.

 

5. Rencana Relokasi :

a. Relokasi Pemukiman

Mengingat daerah bencana sangat rawan terhadap bencana gerakan tanah, maka pemerintah desa berencana memindahkan 52 KK (relokasi), ke tempat yang lebih aman. Secara umum kondisi lahan relokasi sebagai berikut:

  • Lahan relokasi berada di pada koordinat 7° 17' 3,69" LS dan  109° 44' 42,66" BT
  • Luas tanah daerah rencana relokasi sekitar 2,292 Ha dengan tata guna lahan adalah ladang dan merupakan tanah kas desa (bengkok kepala desa).
  • Jarak dengan lokasi bencana sekitar kurang lebih 1,5 km, dan terletak berdekatan dengan jalan umum.
  • Morfologi daerah calon relokasi berupa lereng datar - landai dengan kemiringan 0 - 50.
  • Batuan dasar penyusun daerah relokasi berupa batuan gunungapi.
  • Keairan daerah calon relokasi air permukaan sangat melimpah dengan kedalaman muka air tanah relative dangkal (< 4 m).
  • Dari hasil pengamatan lapangan di daerah tersebut tidak terdapat tanda-tanda terjadinya gerakan tanah baik gerakan tanah lama maupun baru, serta kemiringan lereng yang landai. Hal yang perlu antisipasi saluran air yang digunakan untuk berkebun dilancarkan lagi/jangan dibendung agar air tidak menjenuhi area sekitarnya. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara,  Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), sekala 1 : 100.000, daerah rencana lahan relokasi termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terjadi gerakan tanah.
  • Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan daerah ini LAYAK untuk dijadikan sebagai lahan relokasi dengan syarat :
    • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 200 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
    • Perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah)

b. Jalan alternatif

Jalan alternatif darurat untuk sementara bisa difungsikan, namun harus senantiasa waspada atau buka tutup jika hujan atau setelah turun hujan, mengingat pada jalur ini belum ada rekayasa teknis, perkuatan lereng dan penataan saluran drainase. Hal ini karena potensi longsoran kecil-sedang dan tipis masih mungkin terjadi pada jalur alternative tersebut karena kelerengan yang terjal. Jika jalur alternatif darurat ini akan difungsikan sebagai jalan baru (jalan motor dan mobil) perlu survey detil kelayakan oleh instansi terkait (Dinas PU).

 

6. Kesimpulan Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • 52 Rumah yang rusak dan terletak pada daerah yang berpotensi terjadi longsoran susulan sebaiknya direlokasi ke tempat yang aman
  • Daerah bencana masih berpotensi bergerak apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sehingga masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Jika muncul retakan segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng. Jika retakan dan amblesan bertambah lebar segera mengungsi dan menghubungi BPBD Banjarnegara.
  • Sebisa mungkin aliran air permukaan tidak masuk ke zona longsor ini, untuk mengurangi penjenuhan lereng.
  • Kolam didepan masjid segera dikeringkan agar tidak menjenuhi lereng
  • Ke depan jika sudah padat, area longsoran agar ditanami tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Tempat relokasi rumah yang usulkan Pemerintah Desa LAYAK untuk dijadikan sebagai lahan relokasi dengan syarat :
    • saluran air yang digunakan untuk berkebun dilancarkan lagi/jangan dibendung agar air tidak menjenuhi area sekitarnya
    • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 200 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
    • Perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah)
  • Jalan alternatif darurat untuk sementara bisa difungsikan, namun harus senantiasa waspada atau buka tutup jika hujan atau setelah turun hujan, mengingat pada jalur ini belum ada rekayasa teknis, perkuatan lereng dan penataan saluran drainase. Hal ini karena potensi longsoran kecil-sedang dan tipis masih mungkin terjadi pada jalur alternatif tersebut karena kelerengan yang terjal. Jika jalur alternative darurat ini akan difungsikan sebagai jalan baru (jalan motor dan mobil) perlu survey detil kelayakan oleh instansi terkait (Dinas PU).

 

LAMPIRAN

Wanayasa 1 (230118)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah, lokasi calon relokasi dan jalur alternative darurat di Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarengara, Jawa Tengah

 

Wanayasa 2 (230118)

Gambar 2. Peta geologi Desa Bantar dan sekitarnya. Lokasi bencana termasuk dalam Formasi Rambatan (Tmr)

 

Wanayasa 3 (230118)

Gambar 3. Peta Prakiraan terjadinya gerakan tanah Kab. Banjarnegara bulan Januari 2018

 

Wanayasa 4 (230118)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah Desa Bantar

 

Wanayasa 5 (230118)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Desa Bantar, Kec. Wanayasa, Banjarnegara

 

Wanayasa 6 (230118)

Gambar 6. Peta Situasi Lahan Relokasi di Desa Bantar, Kec. Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara

 

Wanayasa 7 (230118)

Gambar 7. Penampang Rencana Relokasi Pemukiman Baru Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara

 

Wanayasa 8 (230118)

Gambar 8. Peta ZKGT lahan Relokasi Desa Bantar, Kec. Wanayasa, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah

 

Wanayasa 9 (230118)

Foto 1. Gerakan tanah yang berkembang menjadi aliran (Flow Slide) di Desa Bantar

 

Wanayasa 10 (230118)

Foto 2. Mahkota Longsor di wilayah sebelah barat Desa Bantar

 

Wanayasa 11 (230118)

Foto 3. Jalan Rusak di Desa Bantar

 

Wanayasa 12 (230118)

Foto 4. Akses jalan utama terputus yang menghubungkan Desa Bantar dan Desa Suwidak

 

Wanayasa 13 (230118)

Foto 5. Retakan dan Rumah rusak di Desa Bantar

 

Wanayasa 14 (230118)

Foto 6. Koordinasi dengan BPBD Banjarnegara

 

Wanayasa 15 (230118)

Foto 7. Peninjauan jalur alternative darurat. Jalur dapat dipakai untuk jalan darurat dengan berjalan kaki namun harus senantiasa waspada atau buka tutup jika hujan atau setelah turun hujan, mengingat pada jalur ini belum ada rekayasa teknis, perkuatan lereng dan penataan saluran drainase

 

Wanayasa 16 (230118)

Foto 8. Lahan Relokasi Desa Bantar. Lahan Relokasi layak untuk dijadikan pemukiman dengan mengatur saluran air dan tidak memotong lereng dengan sudut yang besar