Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan gerakan tanah di Desa Cibodas, Kecamatan Kota Waringin, Kabupaten Bandung,  Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat permintaan BPBD Kabupaten Bandung, No. 360 / 1607/ BPBD, tanggal : 13 Desember 2017, sebagai berikut :

1. Lokasi Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi pada lereng tenggara Bukit Cibeureum di Kampung Cilimus RT.03/RW.17, Desa Cibodas, Kecamatan Kotawaringin, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang secara geografis terletak pada koordinat  : 060 59” 08.30” LS dan 1070 29” 57,70” BT. Gerakan tanah ini terjadi pada tanggal     November  2017 dan terus berlangsung sampai sekarang.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa nendatan dan retakan pada lereng perbukitan  dengan ukuran panjang ± 75 meter, lebar ± 25 - 40 meter dan kedalaman nendatan ± 0,10 – 0,85 meter mempunyai arah N 1540 E.

Retakanya berukuran panjang antara 60 – 120 m, lebar antara 12 – 25 cm, kedalaman antara 10 – 25 cm dengan arah N 1560 E – N 1670 E, retakan ini memanjang hingga mencapai perkampungan. Sebelum dibuatkan parit/saluran, air permukaan mengalir masuk ke dalam retakan dan menjenuhkan tanah pada lereng, sehingga retakan membuka lebar. Setelah dibuatkan saluran, air permukaan tidak masuk ke dalam retakan, maka pada saat dilakukan pemeriksaan retakan telah menyempit sehingga sulit dijumpai tanda-tanda pergerakan.

  

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini mengancam sekitar 130 KK RT. 01, 02 dan 03/ RW.17 Desa Cibodas yang terletak di bawah (kaki) lereng. Apabila terjadi longsoran yang besar, maka rumah-rumah di bawah lereng tersebut akan terancam tertimbun material longsoran

 

4. Kondisi Umum Daerah Bencana

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan lereng tenggara dari perbukitan bergelombang lemah Bukit Cibeureum yang berketinggian antara + 820 m sampai + 865 m dpl (di atas permukaan laut), dengan kemiringan lereng bagian atas antara 15 - 200, lereng bagian tengah – bawah antara 30 -  400 dan setempat terdapat tekuk lereng berkemiringan > 600 . Pada lereng bagian atas terdapat saluran tanah (terbuka) untuk pengairan sawah yang berasal dari saluran S. Cijangkar, alur-alur saluran hingga ke kaki lereng.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan di lapangan, batuan penyusun di daerah bencana berupa breksi tufa, lapuk sedang – lapuk sempurna, berwarna coklat muda – coklat tua, kompak, keras, agak sarang, dengan tanah pelapukan berupa lempung pasiran berwarna coklat keabuan, lunak, lengket berketebalan antara 2 - 3 meter Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, dkk., 1972) dari Puslitbang Geologi, daerah bencana tersusun oleh breksi tufaan, lava andesit, batupasir, konglomerat (Pb) yang berumur Pliosen. Struktur geologi akibat deformasi seperti patahan (sesar), lipatan (fold) dan sebagainya tidak dijumpai di lokasi dan sekitarnya
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana pada bagian atas berupa kebun       campuran, sawah dan kebun bambu, pada bagian tengah berupa  kebun campuran, sawah dan belukar,  sedangkan pada bagian bawah berupa kebun campuran dan pemukiman.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah pada saat  musim hujan berupa limpasan air permukaan (run off) dan air dari saluran irigasi. Air permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui celah/retakan. Konsumsi air penduduk berasal dari sumur gali dengan kedalaman lebih kurang 2 meter. Tidak terdapat mata air pada daerah bencana ini.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi bencana berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing, jalan atau jika lereng mengalami gangguan, gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Dari  hasil peninjauan lapangan daerah ini berpotensi longsor karena disamping mempunyai kemiringan terjal – curam dan tanah pelapukan tebal (> 2,5 m), pada lereng bagian atas dan tengah bertata lahan sawah (lahan basah).

 

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal ( > 2,5 m), lunak dan jenuh air sehingga mudah luruh dan tidak stabil (mudah longsor)
  • Adanya lahan sawah pada lereng bagian atas dan tengah sehingga menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan gembur.
  • Adanya bidang lemah antara tanah pelapukan dan batuan keras (breksi tufa) yang bersifat lebih kedap air sehingga dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah.
  • Kemiringan lereng yang curam pada lereng bagian bawah, menyebabkan lereng retak-retak tidak stabil dan mudah bergerak
  • Hujan deras yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah sehingga tanah mudah bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Adanya hujan deras yang cukup lama menyebabkan air permukaan banyak meresap ke dalam tanah melalui retakan dan rekahan, hal tersebut diperburuk dengan adanya saluran yang berada di atasnya dan keberadaan lahan sawah pada lereng bagian atas dan bagian tengah.

Adanya bidang lemah antara tanah pelapukan dan batuan keras (breksi)  menyebabkan terjadinya zona lemah dan merupakan bidang gelincir yang memicu terjadinya gerakan tanah (rayapan dan retakan). Dengan adanya beberapa pemicu tersebut, maka masa tanah akan nendat dan bergerak turun secara perlahan ke arah kaki lereng serta mengancam rumah-rumah dan bangunan lainya pada lereng bagian bawah.

 

6.    Rekomendasi

Daerah sekitar bencana gerakan tanah masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah pada setiap musim hujan, maka untuk itu di rekomendasikan sebagai berikut :

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat, warga yang bertempat tinggal pada rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman;
  • Apabila terjadi hujan lebat yang berkepanjangan (terutama sore/malam hari), maka masyarakat di kaki lereng disarankan mengungsi ke lokasi yang aman.
  • Tutup retakan dan nendatan dengan tanah liat yang dipadatkan
  • Sawah-sawah pada lereng bagian atas dan tengah harus dikeringkan dan diganti tanaman perkebunan/palawija serta ditanami tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng (jati, mahoni, durian dan lainya)
  • Saluran pada lereng bagian atas, tengah dan bawah (perkampungan) perlu dibuat kedap air (disemen)
  • Apabila nendatan dan retakan berkembang terus, maka masyarakat yang berada di bawah lereng perlu segera mengungsi ke lokasi aman.
  • Bangunan disarankan dengan rumah panggung (rumah kayu)
  • Tanami lereng dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng (jati, mahoni, durian dan lainya)
  • Aparat desa dan masyarakat agar melakukan pemantauan terhadap perkembangan retakan tanah pada daerah tersebut, jika terjadi peningkatan retakan yang cukup signifikan segera dilaporkan kepada BPBD Kabupaten Bandung dan disarankan untuk mengungsi ke tempat yang aman.
  • Penjelasan bahaya tanah longsor dan saran teknis telah disampaikan kepada masyarakat dan aparat desa setempat di lapangan.

 

LAMPIRAN

Cibodas 1 (221217)

Gambar - 1 : Peta Lokasi  Gerakan Tanah Desa Cilimus, Kecamatan Kuwaringin.  Kab. Bandung , Provinsi Jawa Barat

 

Cibodas 2 (221217)

Gambar – 2 : Peta Geologi Kp. Cilimus dan Sekitarnya, Desa Cibodas, Kec. Kotawaringin, Kabupaten Bandung

 

Cibodas 3 (221217)

Gambar – 3 : Peta Situasi Gerakan Tanah Kp. Cilimus, Desa Cibodas, Kec.  Kotawaringin, Kabupaten  Bandung

 

Cibodas 4 (221217)

Gambar - 4 : Penampang Gerakan Tanah A – B Kp. Cilimus, Desa Cibodas, Kec.  Kotawaringin, Kabupaten  Bandung

 

Cibodas 5 (221217)

Gambar - 5 : Penampang Gerakan Tanah C – D  Kp. Cilimus, Desa Cibodas, Kec.  Kotawaringin, Kabupaten  Bandung

 

Cibodas 6 (221217)

Gambar - 6 : Peta Prakiraan WilayahTerjadinya Gerakan Tanah  Bulan Desember 2017 Kabupaten Bandung

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI PROVINSI JAWA BARAT BULAN DESEMBER 2017

Cibodas 7 (221217)

 

Cibodas 8 (221217)

Foto - 1 : Kenampakan retakan yang terjadi di daerah pemeriksaan memanjang dari lereng bagian atas hingga ke pemukiman pada kaki lereng

 

Cibodas 9 (221217)

Foto -2 : Bekas retakan yang terjadi di dekat rumah penduduk pada lereng bagian bawah yang telah ditutup tanah

 

Cibodas 10 (221217)

Foto - 3 : Tataguna lahan sawah yang terletak pada lereng bagian atas menyebabkan tanah pada lereng menjadi jenuh air dan mudah bergerak

 

Cibodas 11 (221217)

Foto - 4 : Tataguna lahan sawah yang terletak pada lereng bagian tengah menyebabkan tanah pada lereng menjadi jenuh air dan mudah bergerak

 

Cibodas 12 (221217)

Foto - 5 : Lokasi bekas retakan pada lahan sawah yang sudah tertutup tanah

 

Cibodas 13 (221217)

Foto - 6 : Alur saluran yang mengalir pada daerah yang bergerak menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan mudah bergerak

 

Cibodas 14 (221217)

Foto - 7 : Kenampakan rumah-rumah yang terancam gerakan tanah yang terletak pada kaki lereng

 

Cibodas 15 (221217)

Foto -  8 : Wawancana bersama aparat BPBD Kab. Bandung, aparat Desa Cibodas dan ketua RW setempat di lapangan

 

Cibodas 16 (221217)

Foto - 9 : Koordinasi dengan aparat Desa Cibodas , Kec. Kotawaringin, didampingi aparat BPBD Kab. Bandung