Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat berdasarkan berdasarkan kejadian gerakan tanah di lokasi tersebut. Hasil pemeriksaan sebagai berikut, sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Babakan Garut, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat  107° 16' 54,9" BT dan 7° 11' 7,3" LS dengan elevasi lokasi gerakan tanah di ketinggian 1128 meter diatas permukaan laut. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin 28 November 2017 pukul 05.0 WIB pagi hari.

 

2,  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi daerah bencana gerakan tanah ini pada bagian atas berupa lereng perbukitan terjal dengan kemiringan lereng 15 - 30°. Sedangkan pada bagian tengah sampai ke bawah sangat terjal dengan kemiringan 20° – 40°.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana hasil pelapukan dari Breksi Tuf dan Andesit. Menurut Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa tahun 1996 batuan penyusun tersebut termasuk kedalam satuan Lahar dan Lava Gunung Kendeng (Ql (k,w)) yang berumur Kuarter. Tanah pelapukan yang cukup tebal 4 – 6 meter, memiliki sifat sarang, sangat gembur dan kontak dengan bagian bawahnya yang merupakan batuan segar berupa Breksi Tuf. Pada saat pemeriksaan, umumnya kondisi tanah permukaan sangat basah (jenuh air), sehingga kondisi lahan menjadi kurang stabil.
  • Keairan, Kondisi air di wilayah ini sangat melimpah, sehingga tanah pelapukan sangat basah (jenuh). Menurut informasi dari masyarakat, sebelum kejadian longsor, kondisi air di bagian atas sangat melimpah. Bagian atas dekat dengan mahkota longsoran terdapat kolam ikan yang pada saat sebelum kejadian longsor kolam tersebut airnya sampai meluap sehingga air menjenuhi tanah dan mengalir ke bagian tebing terjal, sumber air ini berasal dari aliran mata air, debit mata air bertambah besar pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama. Pada lokasi ini terdapat juga saluran air dari limbah rumah tangga dengan memakai pipa, namun penempatannya tidak tepat karena berada di atas lereng yang seharusnya menjauhi lereng. Dibagian bawah lokasi longsoran terdapat selokan air yang bermuara ke Sungai Ciherang.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada bagian tengah sampai ke bagian atas lokasi bencana gerakan tanah merupakan kawasan pemukiman padat penduduk. Dibagian bawah atau bagian Barat berupa areal pesawahan. Pada bagian ujung longsoran atau bagian bawah longsoran terdapat jalan desa yang menghubungi antar Dusun.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung bulan November 2017 (Pusat Vulaknologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menengah artinya daerah yang mempunyai potensi Menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Babakan Garut, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali secara geografis terletak pada koordinat  107° 16' 54,9" BT dan 7° 11' 7,3" LS dengan elevasi lokasi gerakan tanah di ketinggian 1128 meter diatas permukaan laut.  Lokasi gerakan tanah merupakan lereng yang sangat terjal karena ada pemotongan lereng dan tidak dibuat tembok penahan tebing. Diatas mahkota longsoran terdapat bangunan kandang sapi sehingga bisa menimbulkan pembebanan pada lereng. Dibagian bawah atau ujung longsoran terdapat jalan desa yang menghubungkan antar dusun. Selain itu terdapat kolam ikan dekat dengan kandang sapi yang bagian bawahnya tidak kedap air sehingga bisa menjenuhi lereng tersebut. Jenis gerakan tanah termasuk kedalam jenis longsoran tanah yang mempunyai arah gerak N 195° E. Dimensi longsoran mempunyai lebar sekitar 15 meter dan panjang 10 meter.

Menurut informasi warga setempat dan pengamatan lapangan, dampak bencana gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 1 (satu) unit rumah rusak ringan.
  • 2 (dua) unit rumah terancam.
  • Sebagian badan jalan tertimbun material longsoran.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Kelerengan yang sangat terjal dengan kemiringan 30° - 45° dan tidak adanya dinding penahan yang bisa meningkatkan nilai kestabilan lereng.
  • Sistem aliran air permukaan yang kurang baik, sehingga air permukaan mudah menjenuhi tanah yang gembur.
  • Tanah pelapukan yang sangat tebal (>4 meter) yang lolos air/porous, gembur dan bersifat lepas (loose) yang berada di atas lapisan batuan yang kedap air, sehingga kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan tekanan pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan di bawahnya berupa tanah yang masih kompak yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan yang sangat terjal di bagian atas, maka terjadi longsoran bahan rombakan di bagian atas.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut:

  • Melakukan penataan air permukaan secara keseluruhan di wilayah ini, tidak membuang limbah air rumah tangga langsung ke atas lereng tetapi harus menjauhi lereng terjal.
  • Rumah yang rusak dan yang terancam tidak perlu direlokasi, namun harus tetap waspada apabila muncul retakan baru terutama pada musim hujan.
  • Apabila muncul retakan harus segera ditutup dengan tanah lempung yang dipadatkan atau material yang kedap air agar air permukaan tidak masuk kedalam lapisan tanah.
  • Tebing yang terjal harus dibuat dinding penahan lereng (retaining wall) agar dapat meningkatkan nilai kestabilan lereng.
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan ancaman gerakan tanah.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka disekitar lereng yang terjal dan dibagian atas harus ditanam pepohonan yang berakar kuat dan dalam agar dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Pemantauan terhadap gerakan tanah di Kampung Babakan Garut, Desa Cipelah harus terus menerus dilakukan, jika gerakan tanah terus berkembang sebaiknya mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman dari ancaman bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

 

LAMPIRAN

Cipelah 1 (221217)

Gambar 1. Lokasi gerakan tanah di Kampung Babakan Garut, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Cipelah 2 (221217)

Gambar 2. Peta Geologi Lokasi Bencana di Kampung Babakan Garut, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH 

DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

 BULAN NOVEMBER 2017

Cipelah 3 (221217)

Keterangan :

Cipelah 4 (221217)

 

Cipelah 5 (221217)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung, Jawa Barat di Bulan November 2017

 

Cipelah 6 (221217)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kampung Babakan Garut, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Cipelah 7 (221217)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Kampung Babakan Garut, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Cipelah 8 (221217)

Foto 1. Lokasi longsoran yang berada pada tebing jalan yang termasuk kedalam tipe  longsoran tanah yang mempunyai arah gerak N 195° E. Sebagian material longsoran menutupi badan jalan sehingga mengganggu aktifitas manyarakat yang melewati jalur tersebut.

 

Cipelah 9 (221217)

Foto 2. Kolam yang berada dibagian atas mahkota longsoran harus dikeringkan atau dibuat kedap air dan melakukan penataan air permukaan secara keseluruhan, tidak membuang limbah air rumah tangga langsung ke atas lereng tetapi harus menjauhi lereng terutama lereng terjal.

 

Cipelah 10 (221217)

Foto 3. Rumah yang berada dibagian bawah lokasi gerakan tanah sebaiknya tetap meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat musim hujan

 

Cipelah 11 (221217)

Foto 4. Lokasi gerakan tanah yang berada pada tebing yang sangat terjal dengan kemiringan lebih dari 40° sehingga nilai kestabilan lerengnya berkurang dan memungkinkan tanah untuk mudah bergerak.