Laporan Singkat Bencana Gerakan Tanah Di Desa Bai, Kecamatan Nuangan,kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara

Tanggapan gerakan tanah di Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara, berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan tim Tanggap Darurat Badan Geologi atas permintaan Pemerintah Daerah setempat, adalah sebagai berikut :

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian :

Lokasi gerakan tanah terjadi di Jalan trans Sulawesi menuju Ibukota Kabupaten,tepatnya di desa Bai, Kec. Nuangan, Kab. Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara , secara geografis terletak pada  koordinat 124° 29' 38,2" BT dan 00°  38’ 05,3" LS dengan ketinggian 391 meter dpl. Longsor tersebut terjadi pada bagian selatan badan jalan.

 Di bagian utara badan jalan terjadi juga longsoran  yang berada pada kordinat  124° 29’ 44,9” dan 00° 38’ 07,5”. Gerakan tanah tersebut terjadi semenjak beberapa bulan yang lalu.

 2. Jenis dan Dimensi Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah berupa longsoran/amblasan secara lambat pada badan jalan dengan mekanisme rayapan. Dimensi gerakan tanah adalah : lebar  sekitar 40 meter, dengan tinggi sekitar 7 meter. Arah longsoran N 155° E. Untuk longsoran yang berada di utara badan jalan, arah longsorannya adalah N 330° E.

3. Dampak Gerakan Tanah :

  • Jalur Jalan trans Sulawesi Jalan Nasional di Desa Bai, Kecamatan Nuangan mengalami penurunan dengan kualitas jalan batu dan tanah.
  • Lalu lintas pada kedua titik tersebut menjadi terganggu dan dikhawatirkan dapat menimbulkan kecelakaan
  • 7 rumah berpotensi rusak akibat gerakan tanah tipe rayapan

 4. Kondisi daerah bencana :

  • Secara umum morfologi Kecamatan Nuangan berupa perbukitan relief kasar dengan kemiringan lereng terjal – sangat terjal >35o. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian >390 meter dpl.
  • Litologi lokasi berupa perlapisan lava dan tuff bewarnah kuning, coklat dan merah bata yang telah mengalami pelapukan lanjut. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Kotamobagu, Sulawesi Utara (Apandi & Bachri, 1997) daerah lokasi gerakan tanah di Kecamatan Modayag tersusun oleh batuan dari Batuan Gunungapi Bilungala (Tmbv) yang terdiri dari breksi, tuf dan lava bersusunan andesit, dasit dan riolit. Zeolit dan kalsit sering dijumpai pada kepingan batuan penyusun breksi. Tuf umumnya bersifat dasitan, agak kompak dan berlapis buruk di beberapa tempat. Di daerah pantai selatan dekat Bilungala, satuan ini didominasi oleh lava dan breksi yang umumnya berkomposisi dasit, dan dicirikan oleh warna alterasi kuning sampai coklat, mineralisasi pirit, perekahan yang intensif, serta banyak dijumpai batuan terobosan diorite. Propilitisasi, kloritisasi dan epidotisasi banyak dijumpai pada lava. Tebal satuan diperkirakan lebih dari 1000 meter, sedang umumrnya berdasarkan kandungan fosil dalam sisipan batugamping adalah Miosen Bawah – Miosen Akhir. Nama satuan pertamakali digunakan oleh PT Tropic Endeavour (1972).
  • Tataguna lahan lokasi gerakan tanah adalah lokasi 1 adalah pemukiman sedangkan lokasi 2 adalah ladang dan kebun campuran.
  • Kondisi keairan menunjukan adanya alur air yang melewati jalan, sistem drainase kurang baik.
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Sulawesi Utara bulan Juli 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Nuangan termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 5. Penyebab Gerakan Tanah

 Berdasarkan kajian yang dilakukan, faktor-faktor penyebab terjadinya gerakan tanah adalah :

  • Curah hujan dengan intensitas tinggi
  • Sistem drainase yang kurang baik sehingga terjadi akumulasi konsentrasi air
  • Litologi batuan yang mengalami pelapukan tinggi dan mudah luruh
  • Pembebanan oleh material diatasnya termasuk rumah, kendaraan dan beton jembatan

 6. Mekanisme Gerakan Tanah

 

Tipe gerakan tanah lambat ini dapat dipengaruhi oleh adanya intensitas hujan yang tinggi dan keberadaan alur air yang melewati area jalan utama sehingga area tersebut mudah jenuh air. Batuan vulkanik tersier yang belum lapuk, dapat berfungsi sebagai bidang gelincir dari massa tanah tersebut. Keadaan tersebut mengakibatkan tekanan air pori meningkat, bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat ditambah beban lain seperti rumah dan kendaraan berat. Dengan adanya bobot massa tanah yang tinggi, kemiringan tebing yang terjal (> 30o), peningkatan tekanan air pori dan melimpahnya air menyebabkan terjadinya gerakan tanah tipe rayapan pada bagian bawah lereng. Akibat adanya gerakan tanah pada bagian bawah lereng tersebut mengakibatkan terjadinya tarikan dan retakan pada jalan dan pemukiman. Hal ini dapat dilihat pada rumah yang mengalami nendatan/pergeseran antara 20-50 cm.

 7. Rekomendasi:

  • Jenis gerakan tanah rayapan jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya jalan dan bangunan serta ketidaknyaman bertempat tinggal. Oleh karena itu +/- 7 rumah yang terletak di dekat lokasi terdampak sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman. Jika pemukiman tetap dipertahankan sebaiknya dibuat tipe rumah panggung/kayu, serta dibuat pengaturan saluran drainase agar air tidak melimpah ke daerah rawan longsor;
  • Masyarakat terutama yang bermukim diarea pergerakan tanah diharapkan lebih waspada dan memantau terus retakan, terlebih apabila terjadi hujan lebat dan berlangsung lama, karena akan berpotensi terjadi gerakan tanah;
  • Masyarakat Desa Bai diminta agar memantau jika muncul retakan baru, jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah lempung untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah.
  • Tidak membuat kolam/genangan air pada daerah tersebut karena akan mempercepat terjadinya gerakan tanah.
  • Mengupayakan penataan wilayah dengan mempertimbangkan beberapa kendala geologi seperti potensi gerakan tanah tipe rayapan dan longsor.
  • Mengupayakan pembatasan berat kendaraan yang melewati area tersebut.
  • Memperketat izin pembuatan bangunan di daerah-daerah rawan terdampak bencana.
  • Memasang rambu peringatan rawan gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan bahaya gerakan tanah.
  • Meningkatkan sosialisasi dan dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

 

bai 1

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Bai, Kec. Nuangan

 

bai 2

Gambar 2.   Peta geologi lokasi longsor, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Apandi & Bachri, 1997).

 

bai 3

Gambar 3.   Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Djadja & Triana, 2013).

 

bai 4

Gambar 4.   Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Bai, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur

 

bai 5

Gambar 5.   Penampang Gerakan Tanah A - B

 bai 6

Gambar 6.   Penampang Gerakan Tanah C - D

 

bai 7

Gambar 7. Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah Provinsi Sulawesi Utara Bulan Juli 2017 (PVMBG, 2017)

 

bai 8

bai 9

bai 10

bai 11

DAFTAR FOTO SURVEI

bai 12

bai13

Foto 1. Koordinasi dan Sosialisasi dengan BPBD Kabupaten

Bolaang Mongondow Timur.

 

LONGSOR 1#

 

bai 13

Foto 2. Lokasi Longsor dan Potensi di Desa Bai, Kec Nuangan

Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. (Barat)

 

 bai 14

Foto 3. Morfologi Extrime Curam pada beton penahan jalan

 

bai 17

Foto 4. Jalan yang mengalami gerakan tanah tipe rayapan

bai 16

Foto 5. Potensi gerakan tanah rayapan yang dapat merusak rumah.

 

LONGSOR 2#

 

bai 17

bai 18

Foto. 6. Jalan Desa Bai yang mengalami pergerakan tanah