Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Dusun Templek, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Provinsi Jawa Timur  sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Dusun Templek, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Gerakan tanah terjadi pada tanggal 24 Maret 2017.

 

2. Jenis Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan dengan arah dan N 760 E, dengan ukuran panjang 7 m, lebar 4 m dan tinggi tebing 4 m. Gerakan tanah ini terjadi pada tebing terjal bekas pemotongan lereng yang curam dengan kemiringan lebih dari 600.

 

3. Dampak Bencana Gerakan Tanah :

Dampak terjadinya bencana gerakan tanah di daerah ini adalah :

  • 1 (satu) orang meninggal dunia
  • 1 (satu) rumah rusak ringan - sedang
  • beberapa rumah terancam

 

4. Kondisi Daerah Gerakan Tanah
  • Morfologi, Secara umum daerah gerakan tanah merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang dengan ketinggian ± 829 m di atas permukaan laut dengan kemiringan 10 – 300 setempat > 600.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan di lapangan, batuan penyusun daerah gerakan tanah berupa breksi dan tufa pasiran, dimana bagian permukaan lapuk lanjut – lapuk sempurna berupa lempung pasiran, coklat, lunak, tebal (> 4 m) dan sarang. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo (Sampurno, dkk., Puslitbang Geologi, 1997)  batuan penyusun daerah tersebut termasuk Anggota Breksi Jabolarangan (Qvjb) yang terdiri dari breksi, breksi tuf, breksi gunungapi, sisipan tuf dan lava. Struktur geologi yang berkembang di daerah pemeriksaan berupa kelurusan yang ditafsirkan sebagai patahan (sesar) normal yang berarau relatif barat – timur maupun barat laut – tenggara.
  • Tata guna lahan, Tata lahan daerah bencana pada lereng bagian atas berupa tegalan dan pemukiman, di bagian bawah berupa kebun campuran dan pemukiman. Secara keseluruhan tata lahan daerah Templek berupa kebun campuran, lading/tegalan, sawah dan pemukiman
  • Keairan, Berupa aliran air permukaan (run off) pada waktu hujan dan air permukaan melalui alur sungai yang mengalir pada lereng bagian tengah (hanya berair pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari diambil dari mata air yang ada di sekitar lokasi.
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan  April 2017 Kecamatan Poncol Kabupaten Magetan (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan  gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. 

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab terjadinya bencana gerakan tanah di daerah ini antara lain :

  • sifat fisik tanah pelapukan (lempung pasiran) yang tebal (lebih 5 m), gembur, bersifat lepas dan sarang serta batuan vulkanik yang kurang padu (tidak kompak)
  • kemiringan lereng yang curam ( > 600 ) akibat pemotongan lereng
  • hujan deras dalam waktu lama yang terjadi pada sore hingga malam hari (sebelum terjadinya longsoran susulan)

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Hujan yang turun terus menerus selama beberapa jam sebelum terjadinya longsor menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah dan material longsoran melalui rekahan dan ruang antar butir tanah, sehingga tanah menjadi jenuh air, menyebabkan bobot masanya dan tekanan air pori bertambah serta kuat gesernya menurun. Karena adanya kemiringan lereng yang curam (akibat pemotongan lereng), maka tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah longsor. Material longsoran menimpa bagian belakang rumah penduduk menyebabkan 1 (satu) orang meninggal dunia. Daerah sekitar longsoran masih berpotensi terjadinya longsoran susulan, sehingga masyarakat di sekitar harus selalu waspada, terutama pada waktu hujan dan setelah hujan lebat dalam waktu lama.

 

7. Zona Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan hasil pemetaan lapangan daerah Templek dan sekitarnya, maka dapat daerah pemeriksaan dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) zona kerentanan gerakan tanah, yaitu : ( lihat lampiran Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah )

  • Zona kerentanan gerakan tanah rendah, Daerah ini mempunyai tingkat rendah untuk terkena gerakan tanah. Daerah ini meliputi daerah-daerah berkemiringan relatif datar – landai yang mempunyai penyebaran secara sporadis, terutama di bagian timur dan timur laut  daerah pemeriksaan.
  • Zona kerentanan gerakan tanah menengah, Daerah ini mempunyai tingkat menengah untuk terkena gerakan tanah. Daerah ini meliputi daerah-daerah berkemiringan agak terjal – curam, yang mempunyai penyebaran secara sporadis, terutama di bagian barat, tengah dan timur laut daerah pemeriksaan.
  • Zona kerentanan gerakan tanah tinggi, Daerah ini mempunyai tingkat tinggi untuk terkena gerakan tanah. Daerah ini meliputi daerah-daerah berkemiringan terjal – curam atau hampir tegak, yang mempunyai penyebaran secara sporadis, terutama di bagian selatan dan barat laut daerah pemeriksaan.

 

7. Kesimpulan
  • Jenis longsoran berupa longsoran bahan rombakan
  • Bencana ini menyebabkan 1 (satu) orang meninggal dunia, 1 (satu) rumah rusak sedang dan beberapa rumah terancam
  • Longsoran masih dapat terjadi di lokasi bencana dan sekitarnya.
  • Daerah sepanjang tebing (gawir) curam ini merupakan daerah rawan terhadap bencana gerakan tanah

 

8. Rekomendasi :

  • masyarakat di sekitar bencana perlu waspada dan bila terjadi hujan deras disarankan untuk mengungsi ke lokasi yang aman, karena daerah bencana dan sekitarnya masih berpotensi terjadi longsor susulan
  • masyarakat di sekitar daerah bencana dan yang berlereng terjal/curam perlu waspada dan melakukan kontrol terhadap tanda-tanda gerakan tanah (adanya retakan, keluarnya mata air baru, mata air keruh, pohon-pohon miring, suara gemuruh dalam tanah)
  • tidak melakukan penebangan tanaman keras pada lereng
  • tidak melakukan penggalian secara tegak pada lereng
  • perlu penataan air permukaan dan air rumah tangga terutama pada lereng bagian atas
  • rumah-rumah yang rusak dan terancam secara bertahap perlu direlokasi ke lokasi yang aman
  • perlu sosialisasi bencana (khususnya tanah longsor) di daerah bencana dan sekitarnya oleh Pemda setempat

 

 

LAMPIRAN

 

Magetan 1 (190617)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah

 

Magetan 2 (190617)

Gambar 2. Peta geologi lokasi gerakan tanah

 

Magetan 3 (190617)

Gambar 3. Peta ZKGT Kab. Magetan

 

Magetan 4 (190617)

Gambar 4. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah Kab. Magetan

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN MAGETAN

 BULAN APRIL 2017

Magetan 5 (190617)

Keterangan :

Magetan 6 (190617)

 

Magetan 7 (190617)

Gambar 5. Peta situasi gerakan tanah

 

Magetan 8 (190617)

Gambar 6. Penampang gerakan tanah

 

Magetan 9 (190617)

Gambar 7. Peta ZKGT lokasi gerakan tanah

 

 

FOTO – FOTO LAPANGAN

 

Magetan 10 (190617)

Foto -1 : Kondisi longsoran yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia di Dusun Templek, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kab. Magetan

 

Magetan 11 (190617)

Foto - 2 : Kondisi tebing dan posisi rumah-rumah penduduk yang rawan longsor di Dusun Templek, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kab. Magetan

 

Magetan 12 (190617)

Foto - 3 : Kondisi rumah-rumah yang terancam longsoran di Dusun Templek, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kab. Magetan

 

Magetan 13 (190617)

Foto - 4 : Kondisi tebing rawan longsor yang banyak terdapat di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kab. Magetan

 

Magetan 14 (190617)

Foto - 5 : Alat peringatan dini gerakan tanah (LEWS) yang ada di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kab. Magetan