Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Susulan Di Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Dukuh Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Provinsi Jawa Timur  sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian :

Gerakan tanah terjadi di  RT 002/RW 001 dan RT 003/RW 001 Dukuh Tangkil, Desa Banaran Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu pagi, tanggal 1 April  2017 sekitar pukul 07.30 WIB.

 

2. Jenis Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan (bentuk rotasi) dan berkembang menjadi aliran bahan rombakan. Gerakan tanah mempunyai arah dan N 1160 E, N 1210 E dan  N 2000 E (searah aliran) kemudian membelok ke arah selatan (ke kanan) berarah N 2220 E menjadi aliran bahan rombakan melalui lembah Kali Tangkil dan terus berkembang hingga Kampung Krajan (material longsoran sekarang sudah sampai Kp. Karajan) dan bila dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi akan dapat berkembang menjadi banjir bandang hingga ke Kali Sempor.

 

3. Dampak Bencana Gerakan Tanah :

Dampak terjadinya bencana gerakan tanah di daerah ini adalah :

a.  Longsoran Lama

  • 28 orang meninggal dunia (4 orang sudah ditemukan)
  • 32 rumah hancur
  • puluhan rumah terancam
  • sekitar 5 Ha lahan pertanian hancur/rusak 

b.   Longsoran Baru

  • 2 rumah hancur tertimbun material longsoran
  • 2 mobil , 1 exavator dan 5 sepeda motor tertimbun material gerakan tanah
  • puluhan rumah di Kp. Karajan dan Kp. Gondangsari terancam banjir bandang

 

 

4. Kondisi Daerah Bencana Gerakan Tanah :

  • Morfologi, Dari kondisi morfologi, daerah lokasi bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang kasar, kemiringan agak terjal sampai curam dengan ketinggian antara 700 – 1100 meter di atas muka  laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Madiun (Udi Hartono, dkk., 1992)  batuan penyusun daerah tersebut termasuk Morfoset Jeding-Patukbanteng (Qj) yang terdiri dari lava andesit piroksen, breksi gunungapi, sisipan tuf dan batuapung, di bagian permukaan batuan telah lapuk lanjut – sempurna berupa lempung pasiran, warna coklat, lunak, tebal (> 4 m). Struktur geologi baik berupa patahan (sesar) maupun lipatan (fold) tidak terdapat pada daerah bencana
  • Tata guna lahan, Tata lahan daerah rencana bencana umumnya berupa kebun campuran, belukar, setempat pemukiman dan sawah. Pemukiman yang terkena bencana menempati  tepi Kali Tangkil dan berada dibawah lereng terjal
  • Keairan, Berupa aliran air permukaan (run off) pada waktu hujan dan air permukaan melalui alur sungai yang mengalir pada lereng bagian tengah (hanya berair pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari diambil dari mata air yang ada di sekitar lokasi.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur Bulan April 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Pululng dan sekitarnya termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah – Tinggi, artinya daerah yang mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab terjadinya bencana gerakan tanah di daerah ini antara:

  • sifat fisik tanah pelapukan (lempung pasiran) yang tebal (lebih 5 m), gembur, bersifat lepas dan sarang serta batuan vulkanik yang kurang padu (tidak kompak)
  • sifat fisik material longsoran yang tebal (lebih 10 m), gembur, bersifat lepas dan sarang.
  • Adanya erosi pada tebing lereng (akibat aliran air hujan)
  • adanya retakan-retakan pada tebing bagian atas dan masuk kedalam tanah menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masa dan tekanan air pori tanah meningkat serta daya ikatnya menurun.
  • kemiringan lereng yang curam ( > 400 )
  • hujan deras dalam waktu lama yang terjadi pada sore hingga malam hari (sebelum terjadinya longsoran susulan) 

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Hujan yang turun terus menerus selama beberapa jam sebelum terjadinya longsor menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah dan material longsoran melalui rekahan dan ruang antar butir tanah, sehingga tanah menjadi jenuh air, menyebabkan bobot masanya dan tekanan air pori bertambah serta kuat gesernya menurun. Karena adanya kemiringan lereng yang curam maka tanah menjadi tidak stabil dan retakan bertambah lebar dan akhirnya terjadilah longsor. Material longsoran terakumulasi pada lembah Kali Tangkil bercampur air dan mengalir ke arah hilir dan dapat berkembang menjadi aliran bahan rombakan dan mengancam rumah-rumah di Dusun Krajan dan Gondangsari di hilir Kali Tangkil (pada saat pemeriksaan material longsoran sudah sampai di ujung Dusun Krajan)

 

7. Kesimpulan
  • Jenis longsoran berupa longsoran bahan rombakan (rotasi) dan berkembang menjadi aliran bahan rombakan (dominan tanah)
  • Longsoran susulan masih dapat terjadi di lokasi bencana dan sekitarnya.
  • Material longsoran  mengalir melalui Kali Tangkil dan dapat berkembang menjadi banjir bandang
  • Material longsoran dan banjir bandang sudah sampai di Dusun Krajan dan akan berkembang mengancam Dusun Gondangsari
  • Material hasil longsoran lama masih menumpuk merupakan material yang tidak terkonsolidasi dan tidak stabil (berpotensi untuk bergerak) sebagai aliran material rombakan dan berpotensi terjadi banjir bandang (apabila bercampur dengan air dalam jumlah banyak atau curah hujan sangat tinggi).
  • Berpotensi terjadi longsoran susulan pada longsoran lama dan material longsoran (seberang tebing longsoran lama) yang dapat menutup aliran Kali Tangkil dan dapat menimbulkan genangan (waduk alam) yang berpotensi terjadi banjir bandang pada Kali Tangkil dan Kali Kajaran di hilirnya
  • Daerah bencana sudah tidak layak huni dan rumah-rumah yang rusak dan terancam perlu direlokasi ke lokasi yang aman.
  • Lokasi rencana relokasi sementara di sekitar daerah bencana dipandang masih rawan terhadap bencana gerakan tanah (tidak stabil), karena di beberapa lokasi di sekitar daerah tersebut telah terjadi retakan-retakan beberapa waktu sebelumnya (sekarang sudah tertutup tanah) dan perlu penyelidikan lebih lanjut
  • Untuk lokasi rencana relokasi masih menunggu (berkoordinasi) dengan BPBD Kabupaten Ponorogo (perlu penyelidikan teknis)

 

8. Rekomendasi :

a. Jangka pendek
  • masyarakat di sekitar bencana perlu waspada dan disarankan untuk mengungsi ke lokasi yang aman, karena daerah bencana dan sekitarnya masih berpotensi terjadi longsor susulan
  • dalam pencarian korban bencana perlu waspada terhadap bencana longsor susulan (dihentikan bila terjadi hujan)
  • masyarakat di sekitar daerah bencana perlu melakukan kontrol terhadap tanda-tanda gerakan tanah (adanya retakan, keluarnya mata air baru, mata air keruh, pohon-pohon miring, suara gemuruh dalam tanah) serta mewaspadai apabila terjadi pembendungan aliran sungai (waduk alam) di sepanjang aliran sungai
  • tidak melakukan penebangan tanaman keras pada lereng
  • tidak melakukan penggalian secara tegak pada lereng
  • penataan air permukaan (run off) pada lereng
  • lokasi rencana relokasi sementara (huntara) di sekitar daerah bencana dipandang masih rawan terhadap bencana gerakan tanah (tidak stabil), karena di beberapa lokasi di sekitar daerah tersebut (lereng bagian atas) masih berpotensi terjadi longsoran (meskipun tidak besar)
  • rencana relokasi sementara ditempatkan secara setempat-setempat (sporadis) pada tanah-tanah penduduk sekitar lokasi yang dipandang masih cukup aman.
  • menyudet genangan-genangan air (pembendungan sungai) pada aliran sungai agar tidak menimbulkan banjir bandang dikemudian hari
  • sosialisasi bencana (khususnya tanah longsor) di daerah bencana dan sekitarnya oleh Pemda setempat
b. Jangka panjang
  • merelokasi rumah-rumah yang rusak dan terancam ke lokasi yang aman
  • merubah lahan bencana dan sekitarnya menjadi lahan perkebunan dengan tanaman keras yang berakar kuat dan dalam yang berfungsi dapat menahan lereng
  • reboisasi lahan kritis di daerah bencana dan sekitarnya (Perhutani)
  • memasang alat peringatan dini/ alat pantau longsor
  • Untuk lokasi rencana relokasi masih menunggu (berkoordinasi) dengan BPBD Kabupaten Ponorogo dan Pemerintah Daerah setempat (perlu penyelidikan teknis) 

Tim telah melakukan koordinasi dan penjelasan teknis kepada Gubernur Jawa Timur dan jajarannya dan berkoordinasi dengan BNPB, Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Ponorogo, Kementerian Sosial, Dinas Kehutanan Kabupaten Ponorogo, TNI, POLRI, SAR, Tagana, dan Kementerian LHK untuk penanganan bencana ini, penyebaran informasi ke Mass Media baik surat kabar (jawa pos, kompas dan koran-koran lokal)  maupun televisi (metro tv, tvone, jtv, kompas tv, dll) serta sosialisasi kepada masyarakat terkena dampak.

 

 

LAMPIRAN

Pulung 1 (070617)

 

Pulung 2 (070617)

 

Pulung 3 (070617)

 

Pulung 4 (070617)

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN PONOROGO

 BULAN APRIL 2017

Pulung 5 (070617)

Keterangan :

Pulung 6 (070617)

 

Pulung 7 (070617)

 

Pulung 8 (070617)

 

Pulung 9 (070617)

 

Pulung 10 (070617)

Foto -1 : Kondisi longsoran bahan rombakan di Dsn Tingkil, Ds. Banaran, Kec. Pulung, Kab. Ponorogo, Jawa Timur (longsoran lama)

 

Pulung 11 (070617)

Foto -2 : Kondisi longsoran baru di sekitar lokasi bencana Dsn Tingkil, Ds. Banaran, Kec. Pulung, Kab. Ponorogo, Jawa Timur (longsoran lama)

 

Pulung 12 (070617)

Foto -3 : Kondisi longsoran utama (pada saat setelah terjadi longsoran susulan) di Dsn Tingkil, Ds. Banaran, Kec. Pulung, Kab. Ponorogo, Jawa Timur (longsoran lama)

 

Pulung 13 (070617)

Foto -4 : Kondisi longsoran dan tumpukan material longsoran yang dapat menutup aliran Kali Tangkil dan menimbulkan banjir bandang di daerah hilir Ds. Banaran, Kec. Pulung, Kab. Ponorogo, Jawa Timur (longsoran lama)

 

Pulung 14 (070617)

Foto -5 : Kondisi material longsoran pada lembah Kali Tangkil yang berpotensi terjadi banjir bandang

 

Pulung 15 (070617)

Foto -6 : Penyebaran informasi bencana tanah longsor ke beberapa Mass Media (radio, koran dan televisi)