Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah

A. Pemukiman di Dukuh Sangiran, Desa Krikilan, Kec. Kalijambe
1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Bencana gerakan tanah terjadi di pemukiman RT 12 Dukuh Sangiran, Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen, dengan koordinat gerakan tanah 07o 27’ 20, 7” LS dan 110o 50’ 20,7” BT.

Bencana gerakan tanah sering terjadi di daerah ini setiap musim hujan, namun mulai secara intensif berkembang sejak Januari 2017 setelah turun hujan dengan intensitas tinggi. Pada saat pemeriksaan, gerakan tanah masih terjadi.

 2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi:

Secara umum morfologi lokasi bencana di Dukuh Sangiran dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal, dengan kemiringan lereng antara 10 - 35°, ketinggian antara 110 - 125 meter di atas permukaan laut.

  • Geologi:

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Salatiga, Jawa (Sukardi dan Budhitrisna, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1992), kondisi geologi daerah bencana dan sekitarnya disusun atas Formasi Kalibeng (Tmpk) berupa napal pejal, napal bersisipan batupasir tufan dan bintal batugamping; dan Formasi Pucangan (Qpp) berupa batulempung berisisipan batupasir tufan, tanah diatome, dan breksi. Berdasarkan pengamatan lapangan batuannya berupa batulempung berselingan dengan batupasir, tingkat pelapukan sedang, tanah pelapukan berupa lempung lanauan berwarna coklat sampai coklat tua dengan ketebalan di atas 0,5 - 1 meter.

  • Keairan:

Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik berasal dari sumur gali dengan kedalaman 20 – 30 meter, dimanfaatkan sebagai sumber air rumah tangga dan di lereng bagian bawah terdapat kali yang mengalir pada musim hujan (intermiten), dimanfaatkan untuk pertanian (pesawahan).

  • Tata guna lahan:

Lahan di lokasi gerakan tanah dimanfaatkan umumnya sebagai kebun campuran, bambu dan pemukiman di lereng bagian atas sampai lereng tengah, sedangkan lereng bagian bawah berupa kebun campuran, bambu, dan pesawahan.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sragen (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah menengah artinya daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Sragen bulan Januari 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah di daerah pemukiman adalah rayapan (creeping) yang ditunjukkan dengan retakan-retakan dan amblasan pada tanah dan rumah penduduk (Foto 1 dan Foto 2). Retakan tersebar dari lereng bagian atas hingga bagian bawahnya. Arah retakan di pemukiman 15°, dengan arah gerakan relatif seragam dengan kisaran N 90° E sampai N 110° E, ke arah timur, lebar retakan 5 – 10 cm. Terdapat amblasan di kebun belakang rumah penduduk, sedalam 0,5 – 2 meter.

 Dampak bencana:

  • 9 (enam) rumah permanen dan non permanen terancam gerakan tanah susulan.

 4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:

 

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap berupa batulempung dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Di lain pihak daya dukung tanah berkurang akibat tingginya kandungan air di dalam tanah, hal ini dikarenakan sistem drainase permukaan yang kurang baik dimana seluruh air permukaan baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke dalam tanah dan mempercepat berkembangnya longsor
  • Kemiringan lereng yang agak terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 6.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Masyarakat agar memantau munculnya retakan baru, jika retakan bertambah lebar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Tanah yang sudah rusak akibat longsor agar dilakukan terasering dan ditanami pepohonan yang berakar kuat dan dalam (Foto 1).
  • Pemukiman yang terkena rayapan di Dukuh Sangiran masih layak huni, jika pemukiman dipertahankan maka dengan syarat:

-     Pengarahan drainase/aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga) di sekitar pemukiman, menjauhi dari retakan.

-     Penataan drainase/aliran air tersebut dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah, kemudian dialirkan secara teratur ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.

-     Retakan-retakan di sekitar pemukiman, segera dilakukan penutupan dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut.

  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah. 

B. Jalur Jalan di Desa Krikilan, Kec. Kalijambe1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi pada 3 (tiga) titik di jalur jalan Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen yaitu:

  •  Jalan Lintas Kecamatan Dukuh Sangiran dengan koordinat gerakan tanah 07o 21’ 18, 4” LS dan 110o 50’ 30,9” BT (Gambar 4 dan Gambar 6).
  •  Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe - Plupuh Desa Krikilan dengan koordinat gerakan tanah 07o 27’ 44, 7” LS dan 110o 50’ 52,4” BT (Gambar 7 dan Gambar 8).
  •  Jalan Lingkar Menara Pandang Desa Krikilan dengan koordinat gerakan tanah 07o 26’ 48,7” LS dan 110o 50’ 12,9” BT (Gambar 9 dan Gambar 10).

Bencana gerakan tanah terjadi sejak Januari 2017 dan berlangsung hingga sekarang.

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi:

Secara umum morfologi lokasi bencana di jalur jalan Desa Krikilan merupakan perbukitan bergelombang agak terjal, dengan kemiringan lereng antara 5 - 20° dengan ketinggian antara 90 - 165 meter di atas permukaan laut.

  • Geologi:

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Salatiga, Jawa (Sukardi dan Budhitrisna, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1992), kondisi geologi daerah bencana dan sekitarnya disusun atas Formasi Kalibeng (Tmpk) berupa napal pejal, napal bersisipan batupasir tufan dan bintal batugamping; dan Formasi Pucangan (Qpp) berupa batulempung berisisipan batupasir tufan, tanah diatome, dan breksi. Berdasarkan pengamatan lapangan batuannya berupa batupasir berselingan dengan batulempung tingkat pelapukan sedang, lapuk sebagian, tanah pelapukan berupa lempung lanauan dan lempung pasiran berwarna abu-abu, coklat sampai coklat tua dengan ketebalan di atas 0,5 - 1 meter. Bidang gelincir batulempung.

  • Keairan:

Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan terdapat aliran Sungai Cemoro yang berair sepanjang musim dan saluran irigasi di Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe - Plupuh yang menjadi sumber pengairan sawah di daerah sekitar dan di bagian hilirnya.

  • Tata guna lahan:

Tata lahan di sekitar lokasi bencana pada lereng atas berupa jalur jalan dan kebun campuran, pada lereng bagian tengah dan lereng bawah berupa kebun campuran, lamtoro, pohon jati, bambu, semak belukar, dan pesawahan.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sragen (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah menengah artinya daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Sragen bulan Januari 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah di daerah jalur jalan adalah rayapan (creeping) yang ditunjukkan dengan retakan, nendatan, amblasan dan longsoran pada:

  • Badan Jalan Lintas Kecamatan Dukuh Sangiran dengan arah gerakan relatif N 80° E, ke arah timur, arah retakan N 160° E, tinggi 7 meter, panjang 32, 3 meter, kemiringan 21°, amblas sedalam 0,5 – 1,5 meter (Foto 3).
  • Badan Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe - Plupuh Desa Krikilan dengan arah gerakan relatif N 255° E, ke arah barat, arah retakan N 160° E, panjang 73 meter, kemiringan ± 15°, amblas sedalam ± 2 meter (Foto 3).
  • Badan Jalan Lingkar Menara Pandang Desa Krikilan dengan arah gerakan relatif N 225° E, ke arah barat, panjang mahkota ± 40 meter, kemiringan ± 35°, gawir utama turun sedalam 6,5 meter (Foto 4).

Dampak Gerakan Tanah:

  • Badan jalan Kecamatan Dukuh Sangiran dan Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe - Plupuh rusak dan menghambat lalu lintas.
  • Bronjong batu di bawah jalan Lintas Kecamatan Dukuh Sangiran rusak.
  • Badan Jalan Lingkar Menara Pandang patah dan tak bisa dilewati kendaraan.

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap berupa batulempung dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air hujan terakumulasi dan terkonsentrasi ke sisi badan jalan sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya erosi lateral dari jalur air pada dasar lereng di sisi tenggara Badan Jalan Lingkar Menara Pandang menjadi pemicu longsoran pada jalan tersebut.
  • Beban kendaraan berat yang makin meningkat pada Badan jalan Kecamatan Dukuh Sangiran dan Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe – Plupuh mempercepat berkembangnya gerakan tanah.

5.  Rekomendasi:

Daerah jalur jalan ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan

  • Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan ini karena daerahnya termasuk daerah rawan longsor tinggi, terutama pada waktu hujan.
  • Sebelum ada perbaikan permanen maka sebaiknya membatasi jumlah muatan kendaraan bermotor yang melewati jalur jalan tersebut.
  • Membangun kembali jalan dengan mengikuti kaidah teknik yang sesuai kondisi tanah setempat dengan memperhitungkan beban kendaraan yang melintasi jalur jalan tersebut.
  • Pengendalian air permukaan, bagian permukaan tanah timbunan pada kiri kanan badan jalan agar disemen (kedap), agar air permukaan tidak masuk ke dalam tanah timbunan/badan jalan.
  • Membuat dinding penahan (retaining wall) permanen pada badan jalan yang amblas dengan pondasi menembus batuan dasar dengan pondasi tiang pancang. Pembuatan dinding penahan (posisi dan pondasi) mengikuti kaidah teknik yang sesuai kondisi tanah setempat agar jangan sampai membebani badan jalan.
  • Guna meningkatkan kewaspadaan pengguna jalur jalan ini, Pemerintah Kabupaten (BPBD dan pemda setempat) hendaknya memasang rambu peringatan rawan longsor yang permanen, karena jalur ini rawan longsor tinggi. Juga menyiapkan peralatan berat jika sewaktu-waktu terjadi longsor dapat digunakan untuk membersihkan material longsoran.

kalijambe sragen

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen, Jawa Tengah

 

kalijambe sragen 1

 

Gambar 2. Peta Geologi Bencana Gerakan Tanah di Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen, Jawa Tengah

 

kalijambe sragen 2

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sragen

 

kalijambe sragen 3

Gambar 4. Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Sragen bulan Januari 2017.

 

kalijambe sragen 4

Gambar 5. Peta situasi gerakan tanah di Dukuh Sangiran, Desa Krikilan, Kec. Kalijambe,  Kab. Sragen (Lokasi 1).

 

 

kalijambe sragen 5

Gambar 6. Peta penampang gerakan tanah di Dukuh Sangiran, Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen (Lokasi 1).

 

kalijambe sragen 6

Gambar 7. Peta penampang gerakan tanah Jalan Lintas Kecamatan di Desa Krikilan, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen (Lokasi 1).

 

kalijambe sragen 7

Gambar 8. Peta situasi gerakan tanah di Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe – Plupuh (Lokasi 2).

 

kalijambe sragen 8

Gambar 9. Peta penampang gerakan tanah di Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe – Plupuh (Lokasi 2).

 

kalijambe sragen 9

Gambar 10. Peta situasi gerakan tanah di Jalan Lingkar Menara Pandang (Lokasi 3).

 

kalijambe sragen 10

Gambar 11. Peta penampang gerakan tanah di Jalan Lingkar Menara Pandang (Lokasi 3).

 

 

kalijambe sragen 11 

Foto 1. Menunjukkan amblasan dan retakan pada tanah kebun/semak belukar di belakang pemukiman di Dukuh Sangiran, Desa Krikilan.

 

kalijambe sragen 12

Foto 2. Menunjukkan retakan pada lantai rumah penduduk yang non permanen/bangunan kayu di Dukuh Sangiran, Desa Krikilan.

 

kalijambe sragen 14 

Foto 3. Menunjukkan badan Jalan Lintas Kecamatan di Desa Krikilan yang mengalami nendatan dan amblasan (kiri) dan nendatan di Jalan Lintas Kecamatan Kalijambe – Plupuh.

 

 

 kalijambe sragen 13

Foto 4. Menunjukkan badan jalan yang patah (kiri), akibat longsoran di bawah badan jalan (kanan) di Jalan Lingkar Menara Pandang.

 

kalijambe sragen 15

Foto 5. Kegiatan pemeriksaan dan sosialisasi gerakan tanah dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Kab. Sragen kepada warga dan pemerintah setempat.