Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut :

Lokasi – 1 (Desa Sidorejo, Kec. Purworejo)

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

 Gerakan tanah terjadi di Dusun Jambean, Desa Sidorejo, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 43’ 01,16” LS dan 110° 03’ 0,95” BT. Waktu kejadian tanggal 18 Juni 2016

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan dengan adanya nendatan, longsoran bahan rombakan dan retakan dengan arah umum N 297° E (relatif ke arah lembah Kali Sikutu).

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 1 (satu) rumah hancur
  • 12 (dua belas ) rumah rusak ringan
  • puluhan rumah terancam
4. Kondisi Daerah Bencana

a. Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng agak landai hingga terjal dengan kemiringan lereng antara 3 – 180 setempat lebih dari 300.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Kebobutak yang terdiri dari breksi andesit, tuf, tuf lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana pada bagian atas berupa breksi di bagian tengah berupa lava andesit dan di bagian permukaan lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 4 meter. Struktur geologi berupa patahan (sesar) geser dengan arah barat daya – timur laut.

c. Tata guna lahan

 Tata lahan pada lereng bagian atas dan tengah berupa kebun campuran dan permukiman dan kebun campuran;   sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran dan jalan aspal.

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air PDAM yang berasal dari mata air terdekat..

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Purworejo pada Bulan Maret 2017  (PVMBG), Kecamatan Purworejo terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah – Tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik batuan yang kurang padu, sarang serta tanah pelapukan yang tebal (lebih dari 4 meter), bersifat sarang, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Kemiringan lereng yang terjal (pada kaki lereng) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya longsoran-longsoran kecil pada kaki lereng akibat erosi  tebing oleh air hujan (air permukaan).
  • Kurangnya tanaman keras yang berakar kuat dan dalam pada tebing (lereng).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.
6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan, menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Adanya longsoran-longsoran pada kaki lereng akibat pemotongan lereng adanya bidang lincir (antara tanah pelapukan dan breksi yang lebih kedap air) serta kemiringan lereng yang agak terjal – curam, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilan rayapan (longsoran dengan pergerakan lambat) disertai dengan retakan dan nendatan yang merusakan bangunan rumah-rumah di daerah tersebut. Gerakan tanah ini akan dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

7. Rekomendasi Teknis

  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata saluran air permukaan dan air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Tidak membuat kolam/genangan serta mengeringkan kolam/genangan yang ada pada daerah tersebut.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Tidak melakukan penggalian secara curam/tegak pada lereng.
  • Menanami daerah bencana dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.
  • Rumah rumah yang rusak di daerah bencana perlu direlokasi ke tempat  yang lebih aman atau dibuat rumah kayu (panggung).
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

Lokasi –  2 (Desa Kedungpoh, Kec. Loano)

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Dusun Bandingan, Desa Kedungpoh, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 38’ 28,31” LS dan 110° 01’ 28,4” BT. Waktu kejadian tanggal  5 Januari 2017 waktu hujan 24 jam dengan intensitas sedang.

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan dengan adanya nendatan, longsoran bahan rombakan dan retakan dengan arah umum gerakan N 85° E (relatif ke arah lembah Kali Bogowonto). Terdapat nendatan cukup besar di daerah lereng bagian atas dengan ukuran lebar 207 m, tingi 0.50 – 2.00 m, arah umum gerakan N 82° E

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 15 (lima belas) rumah rusak sedang
  • 10 (sepuluh) rumah rusak ringan
  • puluhan rumah terancam

4. Kondisi Daerah Bencana

 a. Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng agak landai hingga sangat terjal dengan kemiringan lereng antara 3 – 100 di bagian bawah, 10 – 30° di bagian tengah dan lebih dari 300 di bagian atas.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Kebobutak yang terdiri dari breksi andesit, tuf, tuf lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana pada bagian atas berupa breksi di bagian tengah berupa lava andesit dan di bagian permukaan lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 4 meter. Struktur geologi berupa patahan (sesar) geser dengan arah barat daya – timur laut.

c. Tata guna lahan

 Tata lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran, bagian tengah berupa pemukiman dan kebun campuran, sedangkan pada lereng bagian bawah merupakan kebun campuran, pemukiman dan sawah.

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air PDAM yang berasal dari mata air terdekat..

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Purworejo pada Bulan Maret 2017  (PVMBG), Kecamatan Loano terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah – Tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik batuan yang kurang padu, sarang serta tanah pelapukan yang tebal (lebih dari 4 meter), bersifat sarang, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Kemiringan lereng yang terjal - sangat terjal pada bagian tengah  mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya longsoran-longsoran kecil pada kaki lereng akibat erosi  tebing oleh air hujan (air permukaan).
  • Kurangnya tanaman keras yang berakar kuat dan dalam pada tebing (lereng).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.
6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakan-rekahan, menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Terdapat longsoran-longsoran pada kaki lereng akibat pemotongan lereng, adanya bidang lincir (antara tanah pelapukan dan breksi yang lebih kedap air) serta kemiringan lereng yang agak terjal – curam, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilan rayapan (longsoran dengan pergerakan lambat) disertai dengan retakan dan nendatan yang merusakan bangunan rumah-rumah di daerah tersebut. Gerakan tanah ini akan dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

7. Rekomendasi Teknis

  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata saluran air permukaan dan air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Tidak membuat kolam/genangan serta mengeringkan kolam/genangan yang ada pada daerah tersebut.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Tidak melakukan penggalian secara curam/tegak pada lereng.
  • Menanami daerah bencana dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.
  • Rumah rumah yang rusak di daerah bencana perlu direlokasi ke tempat  yang lebih aman atau dibuat rumah kayu (panggung).
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

Lokasi –  3 (Desa Kalisemo, Kec. Loano)

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

 Gerakan tanah terjadi di Dusun Beru Tengah, Desa Kalisemo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografi terletak pada koordinat : 07° 39’ 42,18” LS dan 110° 04’ 08,16” BT. Waktu kejadian tanggal 18 Juni  2016

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan dengan adanya nendatan, longsoran bahan rombakan dan retakan dengan arah umum N 37° E (relatif ke arah lembah Kali Glagah). Pada lereng bagian atas terdapat nendatan dengan ukuran cukup besar yang mengancam pemukiman di bawahnya

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 2 (dua) rumah rusak ringan
  • 28 (dua puluh delapan) rumah terancam
4. Kondisi Daerah Bencana

a. Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng agak terjal sampai terjal dengan kemiringan lereng antara 3 – 180 setempat lebih dari 300.

b. Kondisi geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Kebobutak yang terdiri dari breksi andesit, tuf, tuf lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana pada bagian atas berupa breksi di bagian tengah berupa lava andesit dan di bagian permukaan lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 4 meter. Struktur geologi berupa patahan (sesar) geser dengan arah barat daya – timur laut.

c. Tata guna lahan

Tata lahan pada lereng bagian atas dan tengah berupa kebun campuran dan permukiman dan kebun campuran;   sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran dan jalan aspal.

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air PDAM yang berasal dari mata air terdekat..

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Purworejo pada Bulan Maret 2017  (PVMBG), Kecamatan Loano terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah – Tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah
  • Sifat fisik batuan yang kurang padu, sarang serta tanah pelapukan yang tebal (lebih dari 4 meter), bersifat sarang, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Kemiringan lereng yang terjal (pada kaki lereng) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya longsoran-longsoran kecil pada kaki lereng akibat erosi  tebing oleh air hujan (air permukaan).
  • Kurangnya tanaman keras yang berakar kuat dan dalam pada tebing (lereng).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Adanya erosi lateral K. Bondowoso.
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakanrekahan, menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Adanya longsoran-longsoran pada kaki lereng akibat pemotongan lereng adanya bidang lincir (antara tanah pelapukan dan breksi yang lebih kedap air) serta kemiringan lereng yang agak terjal – curam, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilan rayapan (longsoran dengan pergerakan lambat) disertai dengan retakan dan nendatan yang merusakan bangunan rumah-rumah di daerah tersebut. Gerakan tanah ini akan dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

7. Rekomendasi Teknis

  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata saluran air permukaan dan air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Tidak membuat kolam/genangan serta mengeringkan kolam/genangan yang ada pada daerah tersebut.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Tidak melakukan penggalian secara curam/tegak pada lereng.
  • Menanami daerah bencana dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.
  • Rumah rumah yang rusak di daerah bencana perlu direlokasi ke tempat  yang lebih aman atau dibuat rumah kayu (panggung).
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

Lokasi –  4 ( Desa Pakem, Kec. Loano)

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Dusun Gamblok, Desa Pakem, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografi terletak pada koordinat : Gamblok bawah 07° 39’ 59,4” LS dan 110° 00’ 17,78” BT. Waktu kejadian tanggal 10 Januari 2016 dan 10  Oktober 2016 dan Gamblok atas : 07° 39’ 58,7” LS dan 110° 00’ 17,9” BT

2. Jenis Gerakan Tanah 

Gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan dengan adanya nendatan, longsoran bahan rombakan dan retakan dengan arah umum N 297° E (relatif ke arah lembah Kali Sikutu).

3. Dampak Gerakan Tanah 

Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  1. Dusun Gamblok atas
  • 1 (satu) masjid rusak sedang
  • 12 (dua belas ) rumah rusak ringan
  • puluhan rumah terancam
  1. Dusun Gamblok bawah
  • 4 (empat) rumah berat/hancur
  • 13 (tiga belas ) rumah rusak ringan
  • puluhan rumah terancam
4. Kondisi Daerah Bencana

a. Morfologi

Secara umum daerah bencana merupakan lereng barat laut dari perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng agak landai hingga terjal ( 3 – 180 ) setempat lebih dari 350.

b. Kondisi geologi

Dari hasil pemeriksaan di lokasi bencana, batuan dasar daerah bencana pada bagian atas berupa breksi di bagian tengah berupa lava andesit dan di bagian permukaan lapukan berupa lempung pasiran, agak gembur, sarang dengan,  ketebalan lebih dari 4 meter. Struktur geologi berupa patahan (sesar) geser dengan arah barat daya – timur laut.

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa, (Wartono Rahardjo,dkk. Puslitbang Geologi, 1995), daerah bencana disusun oleh Formasi Kebobutak (Tmok) yang terdiri dari breksi andesit, tuf, tuf lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit.

c. Tata guna lahan

Tata lahan pada lereng bagian atas dan tengah berupa kebun campuran dan permukiman dan kebun campuran;   sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran dan jalan aspal.

d. Keairan

Keairan pada lokasi bencana berupa aliran permukaan dari air hujan yang mengalir di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah (pada musim hujan), sedangkan untuk keperluan sehari-hari adalah air yang berasal dari mata air terdekat.yang diambil dengan selang plastik.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Kejadian Gerakan Tanah di Kabupaten Purworejo pada Bulan Maret 2017  (PVMBG), Kecamatan .Gebang terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah – Tinggi, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Sifat fisik batuan yang kurang padu, sarang serta tanah pelapukan yang tebal (lebih dari 4 meter), bersifat sarang, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Kemiringan lereng yang terjal (pada kaki lereng) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Adanya longsoran-longsoran kecil pada kaki lereng akibat erosi  tebing oleh air hujan (air permukaan)reksi) yang lebih kedap air.
  • Kurangnya tanaman keras yang berakar kuat dan dalam pada tebing (lereng).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Hujan yang turun dengan durasi lama meningkatkan potensi tanah untuk bergerak.

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi serta drainase yang kurang baik mengakibatkan air terakumulasi dan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir dan retakanrekahan, menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga bobot masanya bertambah serta daya ikatnya berkurang. Adanya longsoran-longsoran pada kaki lereng akibat pemotongan lereng adanya bidang lincir (antara tanah pelapukan dan breksi yang lebih kedap air) serta kemiringan lereng yang agak terjal – curam, maka tanah menjadi tidak stabil dan bergerak perlahan menuruni lereng, sehingga terjadilan rayapan (longsoran dengan pergerakan lambat) disertai dengan retakan dan nendatan yang merusakan bangunan rumah-rumah di daerah tersebut. Gerakan tanah ini akan dapat terjadi lagi pada setiap musim hujan, sehingga daerah ini sangat berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

7. Rekomendasi Teknis

  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Menata saluran air permukaan dan air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Tidak membuat kolam/genangan serta mengeringkan kolam/genangan yang ada pada daerah tersebut.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Tidak melakukan penggalian secara curam/tegak pada lereng.
  • Menanami daerah bencana dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.
  • Rumah rumah yang rusak di daerah bencana perlu direlokasi ke tempat  yang lebih aman atau dibuat rumah kayu (panggung).
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

lapsing purworejo

 

lapsing purworejo 1

 

lapsing purworejo 2 

lapsing purworejo 3

 

lapsing purworejo 4

 

lapsing purworejo 5

 

lapsing purworejo 6 

 

lapsing purworejo 7

 

lapsing purworejo 8

 

lapsing purworejo 9 

 

lapsing purworejo 10  

 

lapsing purworejo 11 

 

lapsing purworejo 12 

lapsing purworejo 13 

 lapsing purworejo 14

 

lapsing purworejo 15 

  

 

lapsing purworejo 16 

 

 

lapsing purworejo 17 

 

 

lapsing purworejo 18 

 

 

lapsing purworejo 19 

 

lapsing purworejo 20 

 

lapsing purworejo 21 

 

lapsing purworejo 22 .jpg. 

 

 

lapsing purworejo 22 

 

lapsing purworejo 24   

 

 

 lapsing purworejo 25 

 

 

lapsing purworejo 26 

 

lapsing purworejo 27 

 

lapsing purworejo 28 

 

lapsing purworejo 29 

 

lapsing purworejo 30 

 

 

 

lapsing purworejo 31 

 

 

lapsing purworejo 32 

 

 

 

lapsing purworejo 33 

 

 

lapsing purworejo 34 

 

 

lapsing purworejo 36   

 

 

lapsing purworejo 37