Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kec. Cimaung, Kec. Pacet, Kec. Cimenyan, Kec. Ibun, Dan Kec. Arjasari, Kab. Bandung Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim pasca bencana gerakan tanah di wilayah di Kec. Cimaung, Kec. Pacet, Kec. Cimenyan, Kec. Ibun, Kab. Bandung berdasarkan permintaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung, dengan nomor surat 045.1/252/BPBD tanggal surat 13 Maret 2017, dan Kec. Arjasari, Kab. Bandung berdasarkan permintaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung dengan nomor surat 360/295/BPBD tanggal 22 Maret 2017, sebagai berikut:

A. Desa Campakamulya, Kecamatan Cimaung, Kab. Bandung
1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Kampung Pasir Sereh RT/RW 01/07, Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat 107º 35’ 04,1” BT dan 7º 06’ 23,3” LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, 7 Maret 2017 pukul 02.00 WIB.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan perbukitan yang lerengnya dipotong dengan kemiringan lereng terjal sampai sangat terjal (38º - 55º). Lokasi bencana berada pada ketinggian 1050 - 1060 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar, dkk., 1992) daerah lokasi gerakan tanah di Desa Campakamulya disusun oleh Batuan Gunungapi Malabar – Tilu yang terdiri dari tuf, breksi lahar mengandung sedikit batuapung dan lava (Qmt). Berdasarkan pengamatan lapangan batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi. Sedangkan tanah pelapukan berupa lempung tufaan berwarna coklat kekuningan.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan relatif cukup tinggi dikarenakan musim hujan masih berlangsung. Terdapat mata air yang berasal dari Gunung Puntang dan dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
  • Tata guna lahan: Tata lahan pada lereng bagian atas dan tengah dimanfaatkan warga sebagai kebun campuran yang terdiri dari pohon singkong, kayu. Sedangkan pada lereng bagian bawah berupe permukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Tengah bulan Maret 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Cimaung termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah secara umum berupa longsoran bahan rombakan pada tebing dengan ketinggian 7 meter dan panjang mahkota longsor 15,2 meter. Arah longsoran N 350º E (relatif ke arah utara). Pada saat pemeriksaan, kaki lereng sudah ditimbun dengan menggunakan karung untuk menahan material longsor. 

Dampak Gerakan Tanah:

  • 4 (empat) rumah terancam longsoran.

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Lereng yang terjal sampai sangat terjal (35º - 55º) sehingga tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air,
  • Kurangnya vegetasi yang berakar kuat dan panjang sebagai penguat lereng,
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik pada lereng bagian atas sehingga seluruh terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5.  Mekanisme gerakan tanah

Gerakan tanah ini tanah ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi yang masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir tanah menyebabkan tanah  jenuh air dan kuat gesernya menurun. Pemotongan lereng yang sangat terjal menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Keadan tersebut mengakibatkan terjadinya longsoran bahan rombakan yang mengancam permukiman yang berada di bawahnya.

 

6. Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Masyarakat yang berada/tinggal di sekitar lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama;
  • Untuk memperkuat lereng, maka disarankan;
  • Lereng dibuat lebih landai dengan sistem berundak
  • Menanam tanaman yang berakar kuat dan panjang untuk mengikat tanah,
  • Membuat dinding penahan dengan pondasi harus dalam sampai batuan dasar yang stabil untuk menahan laju gerakan tanah.
  • Di lahan pemukiman  harus dibuat saluran air permukaan yang kedap air, supaya air tidak meresap ke dalam tanah, air harus langsung dibuang  menjauhi lereng;
  • Jika saran untuk memperkuat lereng tidak bisa dilakukan, maka 4 (empat) rumah yang terancam harus direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena potensi gerakan tanah lambat masih ada;
  • Masyarakat perlu waspada bila perlu mengungsi ketempat yang aman jika terjadi hujan lebat.

 

 

B. Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung

B.1. Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Pamoyanan RT 04 RW 04, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 07º 08’ 30,8” LS dan 107º 41’ 49,0” BT. Gerakan terjadi pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 setelah hujan lebat.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan perbukitan yang lerengnya dipotong dengan kemiringan lereng terjal sampai sangat terjal (>45º). Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 1070 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar, dkk., 1992) daerah lokasi gerakan tanah di Desa Campakamulya disusun oleh Batuan Gunungapi Malabar – Tilu yang terdiri dari tuf, breksi lahar mengandung sedikit batuapung dan lava (Qmt) dan Batuan Gunungapi Gunung Guntur – Gunung Pangkalan yang terdiri dari rempah lepas dari rempah lepas dan lava bersusunan andesit – basalan, bersumber dari komplek gunungapi tua G. Guntur – G. Kendang. Berdasarkan pengamatan lapangan batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi vulkanik sedangkan tanah pelapukan berupa tuf berwana coklat terang.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan, relatif cukup tinggi dengan adanya mata air yang mengalir baik di musim hujan maupun pada musim kemarau. Pada bagian lembah mengalir sungai kecil yang mengalir cukup deras.
  • Tata guna lahan: Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa jalan dan permukiman, pada lereng bagian tengah berupa kebun campuran, sedangkan pada lereng bagian bawah berupa areal persawahan.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Tengah bulan Maret 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Pacet termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan pada rumah yang berada pada tebing dengan ketinggian 6 meter. Longsoran tersebut mengakibatkan terjadinya retakan pada permukaan bangunan sepanjang  2,2 meter. Arah longsoran ke arah N 115º E atau relatif ke arah tenggara.

Dampak bencana:

  • 1 (satu) rumah rusak,
  • 1 (satu) warung terancam longsor.

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik pada lereng bagian atas sehingga seluruh terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Pondasi rumah yang tidak menembus batuan dasar sehingga ambruk terbawa longsoran,
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5.   Mekanisme gerakan tanah

Gerakan tanah di lokasi ini terjadi akibat berkurangnya nilai kestablian lereng karena penjenuhan, penambahan bobot massa tanah. Curah hujan yang tinggi dan peresapan air yang cepat melalui saluran drainase yang tidak kedap air, semakin mempercepat proses penjenuhan dan penambahan bobot massa tanah.  Akibat kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal dan beban yang ada di atas permukaan tanah berupa bangunan mengakibatkan tanah pada lokasi gerakan tanah di sekitar persawahan mudah bergerak ke arah luar lereng sehingga terjadi gerakan tanah dengan tipe longsoran bahan rombakan. Pondasi bangunan yang tidak menembus bidang gelincir mengakibatkan bangunan ambruk terbawa longsoran bahan rombakan.

 

6. Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan,
  • Penataan sistem drainase pada lereng bagian atas dengan sistem aliran melalui saluran yang kedap air dan dialirkan menjauhi lereng yang terjal,
  • Pembuatan dinding penahan dengan kontruksi yang menembus batuan dasar,
  • Pengembangan pemukiman tidak terlalu dekat lereng,
  • Guna meningkatkan kewaspadaan pengguna jalur jalan ini, Pemerintah Kabupaten (BPBD dan pemda setempat) hendaknya memasang rambu peringatan rawan longsor yang permanen, karena jalur ini rawan longsor tinggi. Juga menyiapkan peralatan berat jika sewaktu-waktu terjadi longsor dapat digunakan untuk membersihkan material longsoran,
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

 

B2. Desa Giri Mulya, Kecamatan Pacet 

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Pasangrahan RT 02 RW 03, Desa Giri Mulya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 09’ 04.0” LS dan 107° 40’ 50,1” BT. Gerakan terjadi pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 setelah hujan lebat.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana berupa daerah perbukitan dengan kemiringan lereng agak terjal sampai terjal (>24°). Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 1281 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar, dkk., 1992) daerah lokasi gerakan tanah di Desa Girimulya disusun oleh Batuan Gunungapi Malabar – Tilu yang terdiri dari tuf, breksi lahar mengandung sedikit batuapung dan lava (Qmt). Berdasarkan pengamatan lapangan batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi vulkanik sedangkan tanah pelapukan berupa tuf yang gembur dan bersifat menyerap air.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan, relatif cukup tinggi dengan adanya mata air yang mengalir baik di musim hujan maupun pada musim kemarau. Mata air banyak terdapat di sekitar lokasi gerakan tanah dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dan untuk pertanian. Pada bagian lembah terdapat Sungai Pasanggrahan yang mengalir deras pada musim hujan.
  • Tata guna lahan: Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa permukiman dan bangunan permanen berupa gor, sedangkan pada lereng bagian bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran dan sawah.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Tengah bulan Maret 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Pacet termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan pada tebing setinggi dengan lebar 10 meter. Longsoran tersebut menggerus sebagian lantai gor setinggi 6 meter. Pada saat pemeriksaan gor yang rusak sudah diperbaiki. Arah longsoran N 130° E atau relatif ke arah tenggara.

Dampak bencana:

  • Sebagian permukaan lantai gor rusak akibat terbawa longsoran. Pada saat pemeriksaan gor telah diperbaiki.

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air,
  • Tidak adanya pohon berakar kuat dan dalam yang membantu menahan lereng,
  • Pembebanan lereng oleh bangunan permanen,
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik,
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5.   Mekanisme gerakan tanah

Gerakan tanah  di lokasi ini terjadi akibat berkurangnya nilai kestablian lereng karena penjenuhan, penambahan bobot massa tanah, dan pelunakan yang dipengaruhi akumulasi air akibat pola tanam basah.  Curah hujan yang tinggi dan peresapan air yang cepat melalui saluran pembuangan yang tidak kedap, semakin mempercepat proses penjenuhan dan penambahan bobot massa tanah.

Akibat kemiringan lereng yang agak terjal sampai terjal dan beban yang ada di atas permukaan tanah berupa bangunan yang permanen, dan kurangnya pohon berakar kuat dan panjang mengakibatkan tanah pada lokasi gerakan tanah bergerak ke arah luar lereng sehingga terjadi gerakan tanah dengan tipe longsoran bahan rombakan.

 

6. Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Pada saat pemeriksaan, gor telah diperbaiki tetapi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah harus selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan,
  • Penataan sistem drainase dengan sistem aliran melalui saluran yang kedap air dan dialirkan menjauhi lereng yang terjal,
  • Penanaman pohon yang berakar kuat dan panjang guna meningkatkan kestabilan lereng,
  • Pengembangan pemukiman tidak mendekati aliran material longsoran dan tiidak mendirikan bangunan di atas, pada, dan/atau di bawah tebing yang curam,
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

 

C.   Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung

1.   Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Ceger RT 01 RW, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 06° 51’ 34,4” LS dan 107° 38’ 02,2” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin, 6 Maret 2017 sekitar pukul 18.00 WIB.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan perbukitan yang lerengnya dipotong dengan kemiringan lereng terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian 900 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa (P.H. Silitonga, 1973) daerah lokasi gerakan tanah di Desa Ciburial disusun oleh Batuan Hasil Gunungapi Tua Tak Teruraikan yang terdiri dari breksi gunungapi, lahar, dan lava berselang-seling (Qvu). Berdasarkan pengamatan lapangan batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi. Sedangkan tanah pelapukan berupa tuf.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan relatif cukup tinggi dikarenakan musim hujan masih berlangsung. Terdapat mata air yang berasal dari Gunung Puntang dan dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
  • Tata guna lahan: Tata lahan pada lereng bagian atas berupa pemukiman sedangkan pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran.
  • Kerentanan gerakan tanah Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Tengah bulan Maret 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Cimenyan termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah secara umum berupa longsoran bahan rombakan pada tebing dengan ketinggian 15 meter dan lebar mahkota longsor 11 meter. Arah longsoran N 330º E (relatif ke barat laut).

Dampak Gerakan Tanah:

  • 6 (enam) rumah terancam longsoran.

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Lereng yang terjal sampai sangat terjal sehingga tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air,
  • Kurangnya vegetasi yang berakar kuat dan panjang sebagai penguat lereng,
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik pada lereng bagian atas sehingga seluruh terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5.  Mekanisme gerakan tanah

Gerakan tanah ini tanah ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi yang masuk ke dalam tanah melalui retakanpada permukaan tanah dan ruang antar butir tanah menyebabkan tanah  jenuh air dan kuat gesernya menurun. Pemukiman yang berada pada lereng yang terjal menyebabkan tanah menjadi tidak stabil dan mudah bergerak. Keadan tersebut mengakibatkan terjadinya longsoran bahan rombakan yang mengancam permukiman yang  berada di atas lereng.

 

6. Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Masyarakat yang berada/tinggal di sekitar lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama;
  • Penataan sistem drainase dengan sistem aliran melalui saluran yang kedap air dan dialirkan menjauhi lereng yang terjal,
  • Penanaman pohon yang berakar kuat dan panjang guna meningkatkan kestabilan lereng,
  • Pengembangan pemukiman tidak mendekati aliran material longsoran dan tiidak mendirikan bangunan di atas, pada, dan/atau di bawah tebing yang curam,
  • 6 (enam) rumah yang terancam gerakan tanah agar direlokasi ke tempat yang lebih aman,
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

 

D.   Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung

1.   Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Patrol RT 03 RW 07, Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 07’ 10,4” LS dan 107° 46’ 31,3” BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, 7 Maret 2017 sekitar pukul 20.00 WIB.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan bagian lembah dari perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng agak terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian 1220 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar, dkk., 1992) daerah lokasi gerakan tanah di Desa Ibun disusun oleh Batuan Gunungapi Guntur-Pangkalan-Kendang yang terdiri dari rempah lepas dan lava bersusunan andesit-basalan, bersumber dari komplek gunungapi tua G. Guntur – G.Pangkalan dan G. Kendang. Berdasarkan pengamatan lapangan batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi vulkanik sedangkan tanah pelapukan berupa lempung tufaan berwarna coklat muda.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan relatif cukup tinggi dikarenakan musim hujan masih berlangsung. Pada bagian lembah mengalir Sungai Cikaro yang mengalir deras pada musim hujan.
  • Tata guna lahan: Tata lahan pada lereng bagian atas berupa jalan, jembatan, dan permukiman sedangkan pada lereng bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Tengah bulan Maret 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Ibun termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah secara tanah berupa longsoran sepanjang 27 meter, lebar 5 meter dan tinggi 6 meter. Longsoran tersebut terjadi akibat erosi lateral dari Sungai Cikaro.

Dampak Gerakan Tanah:

  • Pipa saluran air terancam terkena longsoran tetapi pada saat pemeriksaan sedang dibuat saluran air baru.

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Erosi lateral Sungai Cikaro,
  • Kurangnya vegetasi yang berakar kuat dan panjang sebagai penguat lereng,
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik pada lereng bagian atas sehingga seluruh terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5.  Mekanisme gerakan tanah

Aliran Sungai Cikaro yang meluap saat musim hujan telah meningkatkan daya erosi pada bagian bawah lereng sehingga kestabilan lereng mulai terganggu. Aliran air dari saluran pembuangan limbah rumah tangga pada lereng serta adanya lahan basah berupa kebun campuran membuat tanah penyusun lereng menjadi jenuh air. Beban lereng tersebut menambah daya dorong pada lereng dan akhirnya mengurangi kuat geser tanah penyusun lereng dan terjadi longsoran  

 

6. Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Pada saat pemeriksaan, sedang dilakukan pembuatan saluran air, maka masyarakat yang beraktivitas agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama;
  • Segera membuat tembok penahan erosi atau bronjong batu pada bagian bawah lereng yang berbatasan dengan aliran sungai.
  • Penanaman pohon yang berakar kuat dan panjang guna meningkatkan kestabilan lereng,
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

 

E. Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di 2 (dua) lokasi, yaitu:

  1. Kp. Cicarirang RT 3 RW 8, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 02’ 13,2” LS dan 107° 37’ 24,7” BT.
  2. Kp. Cinangka RT 3 RW 7, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 07° 02’ 13,2” LS dan 107° 37’ 24,7” BT.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana berupa daerah perbukitan dengan kemiringan lereng agak terjal sampai terjal (32° - 47°). Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 746 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar, dkk., 1992) daerah lokasi gerakan tanah di Desa Wargaluyu tersusun oleh batuan dari Formasi Beser yang terdiri breksi tufaan dan lava, bersusunan andesit sampai basal (Tmb). Berdasarkan pengamatan lapangan batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi sedangkan tanah pelapukan berupa lempung tufaan yang berwarna coklat kekuningan.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan, relatif cukup tinggi dengan adanya mata air yang mengalir baik di musim hujan maupun pada musim kemarau. Mata air banyak terdapat di sekitar lokasi gerakan tanah dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dan untuk pertanian. Pada bagian lembah terdapat Sungai Cibodas yang mengalir cukup deras pada musim hujan.
  • Tata guna lahan: Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa permukiman dan jalan, lereng bagian tengah berupa kebun campuran yang didominasi oleh pohon bambu, sedangkan pada lereng bagian berupa permukiman dan sawah.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Tengah bulan Maret 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Arjasari termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan pada tebing setinggi dengan lebar 11 meter. Material longsor masih tertinggal pada lereng sehingga dikhawairkan akan terjadi longsoran susulan yang mengancam pemukiman yang berada di bawahnya. Akibat longsoran terbentuk retakan dengan arah N 290° E sedangkan arah longsoran adalan N 200° E atau relatif ke arah barat daya.

Dampak bencana:

  • Kp. Cicarirang : 4 (empat) rumah terancam longsoran
  • Kp. Cinangka : 5 (lima) rumah terancam longsoran

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Sifat tanah pelapukan yang gembur dan sarang dengan kemampuan meloloskan air yang tinggi dan berada di atas batuan dasar yang lebih kedap.
  • Adanya retakan-retakan pada lereng bagian tengah sehingga air permukaan mudah masuk/meresap dan menjenuhkan tanah/batuan.
  • Sistem aliran air permukaan yang tidak seluruhnya dibuat kedap, menyebabkan air meresap ke dalam tanah melalui zona-zona lemah yang ada sehingga terjadi penjenuhan.
  • Pembebanan akibat terdapatnya pohon-pohon bambu yang berada di atas lereng dengan kondisi tanah yang tidak stabil.
  • Kemiringan lereng yang terjal sehingga tanah mudah bergerak.
  • Curah hujan yang tinggi semakin memicu tanah untuk bergerak.

 

5.  Mekanisme gerakan tanah

Gerakan tanah di Desa Wargaluyu, terjadi pada lokasi yang disusun oleh tanah pelapukan bersifat sarang dan berada di atas batuan dasar yang bersifat lebih kedap. Aliran air permukaan yang belum seluruhnya kedap, mengakibatkan peresapan melalui zona-zona lemah tersebut, sehingga terjadi penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Adanya pohon-pohon bambu pada bagian atas lereng semakin menambah beban terhadap tanah.

Kondisi-kondisi di atas ditambah dengan kemiringan lereng yang terjal menyebabkan tanah mudah bergerak untuk mencari kesetimbangan baru. Curah hujan yang tinggi meningkatkan peresapan air dan semakin memicu terjadinya gerakan tanah. Retakan-retakan yang terjadi dan aliran air permukaan yang mengarah ke dalam retakan, mengakibatkan pembebanan terus bertambah, sehingga gerakan tanah semakin intensif.

 

6. Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Jika terdapat retakan agar segera menutup dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Memperbaiki sistem pengaliran air permukaan dengan membuat saluran yang kedap air.
  • Waspadai longsoran-longsoran rumpun bambu terutama yang berbatasan atau dekat dengan permukiman, terutama ketika turun hujan disertai angin kencang.
  • Menanami lereng bagian atas dan tengah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng serta hindari pembuatan kolam dan penggunaan lahan yang memerlukan banyak air agar gerakan tanah di daerah ini berkurang.
  • Perlu dibuat tembok penahan pada lereng dengan pondasi yang menembus batuan dasar.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

 

LAMPIRAN

 

Bandung 1 (190417)

Gambar  1. Peta lokasi gerakan tanah di Kp. Pasirsereh, Desa Campakamulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 2 (190417)

Gambar 2. Peta lokasi gerakan tanah di Kp. Pamoyanan, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 3 (190417)

Gambar 3. Peta lokasi gerakan tanah di Kp. Pasanggrahan, Desa Girimukti, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 4 (190417)

Gambar 4. Peta lokasi gerakan Kp. Ceger, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 5 (190417)

Gambar 5. Peta lokasi gerakan tanah di Kp.Patrol, Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Bandung 6 (190417)

Gambar 6. Peta lokasi gerakan tanah pada jalur jalan Cicarirang – Cinangka, Desa Margaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 7 (190417)

Gambar 7. Peta geologi Kec. Cimaung, Kec. Pacet, Kec. Arjasari, Kec. Ibun dan sekitarnya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 8 (190417)

Gambar 8. Peta geologi Kec. Cimenyan dan sekitarnya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 9 (190417)

Gambar 9. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada bulan Maret 2017, Kabupaten Bandung

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN MARET 2017

Bandung 10 (190417)

Keterangan :

Bandung 11 (190417)

 

Bandung 12 (190417)

Gambar 10. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Pasirsereh, Desa Campakamulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 13 (190417)

Gambar 11. Penampang gerakan tanah di Kp. Peser, Desa Campakamulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 14 (190417)

Gambar 12. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Pamoyanan, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 15 (190417)

Gambar 13. Penampang gerakan tanah di Kp. Pamoyanan, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 16 (190417)

Gambar 14. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Pasanggrahan, Desa Girimukti, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Bandung 17 (190417)

Gambar 15. Penampang situasi gerakan tanah di Kp. Pasanggrahan, Desa Girimukti, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 18 (190417)

Gambar 16. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Ceger, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 19 (190417)

Gambar 17. Penampang gerakan tanah di Kp. Ceger, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Bandung 20 (190417)

Gambar 18. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Patrol, Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Jawa Barat

 

Bandung 21 (190417)

Gambar 19. Penampang gerakan tanah di Kp. Patrol, Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Bandung 22 (190417)

Gambar 20. Peta situasi gerakan tanah di Desa Margaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Bandung 23 (190417)

Gambar 21. Penampang gerakan tanah di Desa Margaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 24 (190417)

Foto 1. Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan di Kp. Pasirsereh RT/RW 01/07, Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kab. bandung

 

Bandung 25 (190417)

Foto 2. Rumah-rumah yang terancam gerakan tanah di Kp. Pasirsereh RT/RW 01/07, Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kab. Bandung

 

Bandung 26 (190417)

Foto 3. Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran di Kp. Pasirsereh RT/RW 01/07, Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kab. Bandung

 

Bandung 27 (190417)

Foto 4. Morfologi di sekitar daerah bencana berupa perbukitan di Kp. Pasirsereh RT/RW 01/07, Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kab. Bandung

 

Bandung 28 (190417)

Foto 5. Gerakan tanah pada pondasi rumah yang berada pada tebing di Kp. Pamoyanan RT 04 RW 04, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung

 

Bandung 29 (190417)

Foto 6. Pondasi rumah yang tidak menembus batuan dasar serta berada pada tebing yang curah diperkirakan sebagai penyebab dari terjadinya gerakan tanah di Kp. Pamoyanan RT 04 RW 04, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung

 

Bandung 30 (190417)

Foto 7. Sistem drainase pada bagian atas lereng yang tidak kedap air di Kp. Pamoyanan RT 04 RW 04, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Sistem drainase agar dibuat kedap air dan dialirkan menjauhi lereng

 

Bandung 31 (190417)

Foto 8. Menunjukan rumah yang rusak dan 1 warung yang terancam gerakan tanah di Kp. Pamoyanan RT 04 RW 04, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung

 

Bandung 32 (190417)

Foto 9. Gerakan tanah pada Gor di Kp. Pasangrahan RT 02 RW 03, Desa Giri Mulya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Pada saat pemeriksaan tembok pada gor telah diperbaiki

 

Bandung 33 (190417)

Foto 10. Saluran air yang sudah kedap air dan dialirkan menjauhi lereng di Kp. Pasangrahan RT 02 RW 03, Desa Giri Mulya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.

 

Bandung 34 (190417)

Foto 11. Tata guna pada lereng bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran di Kp. Pasangrahan RT 02 RW 03, Desa Giri Mulya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Pada bagian lembah mengalir Sungai Pasanggrahan yang mengalir deras pada musim hujan.

 

Bandung 35 (190417)

Foto 12. Gerakan tanah berupa longsoran bahan pada tebing di Kp. Ceger RT 01 RW, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Gerakan tanah ini mengancam permukiman yang berada di atas tebing

 

Bandung 36 (190417)

Foto 13. Foto udara Kp. Ceger, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Bandung 37 (190417)

Foto 14. Tata guna lahan pada lereng tengah lereng berupa kebun campuran yang didominasi oleh pohon bambu serta pada lereng bagian bawah berupa kebun campuran di Kp. Ceger RT 01 RW, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung

 

Bandung 38 (190417)

Foto 15. Rumah-rumah yang terancam terbawa longsoran di Kp. Ceger RT 01 RW, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung

 

Bandung 39 (190417)

Foto 16. Longsoran pada tebing sungai akibat erosi lateral Sungai Cikaro di  Kp. Patrol RT 03 RW 07, Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung

 

Bandung 40 (190417)

Foto 17. Pembuatan saluran air baru di Sungai Cikaro di  Kp. Patrol RT 03 RW 07, Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Para pekerja agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan jangan membangun pada saat dan setelah hujan deras dengan durasi yang lama.

 

Bandung 41 (190417)

Foto 18. Longsoran bahan rombakan pada tebing jalan di Kp. Cicarirang RT 3 RW 8, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung

 

Bandung 42 (190417)

Foto 19. Rumah yang terancam longsoran di Kp. Cicarirang RT 3 RW 8, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung

 

Bandung 43 (190417)

Foto 20. Saluran drainase yang tidak kedap air pada lereng bagian atas di Kp. Cicarirang RT 3 RW 8, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Saluran air ini agar dibuat kedap air dan dialirkan menjauhi lereng

 

Bandung 44 (190417)

Foto 21. Pohon bambu pada lereng yang diperkiran sebagai salah satu penyebab terjadinya gerakan tanah di Kp. Cicarirang RT 3 RW 8, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari

 

Bandung 45 (190417)

Foto 22. Longsoran bahan rombakan pada lereng di Kp. Cinangka RT 3 RW 7, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung

 

Bandung 46 (190417)

Foto 23. Rumah yang terancam gerakan tanah di Kp. Cinangka RT 3 RW 7, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung

 

Bandung 47 (190417)

Foto 24. Saluran drainase yang tidak kedap air di Kp. Cinangka RT 3 RW 7, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Saluran air ini agar dibuat kedap air dan dialirkan menjauhi lereng

 

Bandung 48 (190417)

Foto 25. Sosialisasi Badan Geologi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Daerah setempat