Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Cicangkang Girang, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Desa Cicangkang Girang, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat berdasarkan surat Permohonan Kajian Gerakan Tanah Yang Bernomor 900/074-BPBD, Tanggal 6 Maret 2017. Hasil pemeriksaan sebagai berikut, sebagai berikut : 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kampung Neundeut, RW 11 dan RW 12, Desa Cicangkang Girang, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat : Secara geografis lokasi ini terletak pada koordinat  7° 00' 31.7 LS dan 107° 22' 23.9" BT. Gerakan tanah terjadi pada tanggal, 25 Februari 2017. Namun pada saat ini penduduk masih khawatir terhadap longsoran susulan.

 

2. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana di Kp. Neundeut merupakan lereng perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 10° - 30° yang memiliki elevasi antara 900 – 1000 m diatas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana adalah Breksi dan Lava Andesit Formasi Beser (Tmbe) sebagai batuan dasar dan batupasir tufaan (Tmcs) di bagian atas dan tanah pelapukan. Tanah pelapukan yang berupa pasir lempungan yang menumpang di atas lava andesit.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunanakan sumur dengan kedalaman 8 -10 m. Volume air tanah cukup berlimpah kampung neundeut ini.
  • Tata guna lahan, Di Kp. Neundet, Desa Cicangkang Girang lereng bagian atas berupa persawahan dan pemukiman, sedangkan bagian bawah lereng berupa persawahan, kebun campuran dan pemukiman padat.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat lokasi bencana terletak pada zona kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi. Sedangkan berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat bulan Februari 2017 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menegah - tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Jenis gerakan tanah secara umum adalah gerakan tanah tipe lambat, namun dibeberapa tempat karena kelerengan yang terjal jika curah hujan tinggi menjadi tipe longsoran (slide). Pada area ini terdapat 1 rumah yang sudah rusak berat, pada tahun sebelumnya rumah tersebut hancur, kemudian dibangun lagi dan pada tahun 2017 karena curah hujan tinggi terrjadi gerakan tanah tipe lambat dan hancur lagi.

Arah gerakan tanah di RW 11 adalah N40°E, lebar retakan 10 – 40 cm, panjang retakan 111 m, dengan kelerengan 36°.  Pada bagian bawah retakan ini terjadi longsoran (slide) kecil juga terjadi dengan mahkota longsoran 22 meter, panjang longsoran 11 m, panjang landaan 45 m. Sementara di RW 12 Retakan sudah membentuk tapal kuda, dengan lebar retakan 10 – 25 cm, panjang 76 m, arah pergerakan longsoran N 105 °E, Kelerengan 23°

Dampak bencana menyebabkan :

Di RW 11

  • 3 Rusak Terancam (2 Rusak Berat)
  • Lahan Persawahan Rusak
  • 7 Rumah rusak ringan/ retak-retak

Di RW 12

  • 1 Rumah hancur dan sudah mengungsi
  • Jalan turun/rusak

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kelerengan yang cukup terjal (10 - 30°)
  • Tanah pelapukan menumpang diatas lava andesit masiv
  • Banyaknya rembesan pada kontak antara tanah pelapukan dan lava andesit
  • Volume air yang banyak di lereng bagian atas
  • Tata lahan berupa persawahan di bagian atas dan disekitar pemukiman
  • Curah Hujan Yang Tinggi (Hujan Deras Lebih dari 3 Jam)

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Akibat curah hujan yang tinggi kandungan air dalam tanah meningkat. sehingga tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah, ikatan antar butir tanah mengecil, akibatnya lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari kesetimbangan baru maka terjadilah gerakan tanah, karena lereng tidak begitu terjal pergerakannya lambat  yang terjadi berupa nendatan yang diikuti dengan retakan yang melalui wilayah pemukiman dan pesawahan, sehingga merusak bangunan yang dilaluinya. Dan pada kemiringan lereng yang curam tanah pelapukan yang tebal terletak diatas lava andesit masif sehingga menjadikannya sebagai bidang gelincir. Dengan adanya bobot massa tanah yang tinggi dan kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak sehingga terjadi gerakan tanah.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut:

  • Jenis gerakan tanah tipe rayapan umunya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan dan ketidaknyaman bertempat tinggal.
  • 3 rumah terancam longsoran sebaiknya direlokasi ketempat yang aman (1 rumah rusak berat).
  • Kampung Nendeut terletak pada zona yang bergerak lambat, sehingga jika rumahnya permanen mudah mengalami retak-retak dan jika curah hujan tinggi pergerakan lambat akan terjadi.
  • Masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan terutama jika muncul rembesan pada tekuk lereng dan muncul retakan.
  • Masyarakat agar memantau jika muncul retakan baru, segera ditutup agar air tidak masuk ke retakan tersebut dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah.
  • Tidak mencetak kolam dan sawah karena kejenuhan air mempercepat terjadinya gerakan tanah.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena potensi gerakan tanah lambat masih ada.
  • Tata guna lahan persawahan atau yang memerlukan banyak air sebaiknya dihindari di daerah ini.
  • Masyarakat perlu waspada bila perlu mengungsi ketempat yang aman jika terjadi hujan lebih dari 2 jam,
  • Karena gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe rayapan, maka rumah panggung akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen.
  • Dibuat pengaturan saluran drainase agar tidak melimpah ke area retakan;

 

 

LAMPIRAN

 

Sindangkerta 1 (040417)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kp Neundeut, Desa Cicangkang Girang, Kecamatan Sindangkerta, Kab. Bandung Barat

 

Sindangkerta 2 (040417)

Gambar 2 Peta Geologi Lokasi Bencana

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN BANDUNG BARAT, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN FEBRUARI 2017

Sindangkerta 3 (040417)

Keterangan : 

Sindangkerta 4 (040417)

 

Sindangkerta 5 (040417)

Gambar 3. Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat di Bulan Februari 2017

 

Sindangkerta 6 (040417)

Gambar 4 Peta situasi gerakan tanah di Kp Neundeut, Desa Cicangkang Girang, Kecamatan Sindangkerta, Kab. Bandung Barat

 

Sindangkerta 7 (040417)

Gambar 5 penampang situasi gerakan tanah di Kp Neundeut, Desa Cicangkang Girang, Kecamatan Sindangkerta, Kab. Bandung Barat 

 

Sindangkerta 8 (040417)

Rumah yang terancam dan rusak berat karena gerakan tanah tipe lambat (dua tahun sebelumnya rumah ini sudah hancur dan dibangun lagi kemudian pada tahun 2017 terjadi pergerakan tanah sehingga rusak berat)

 

Sindangkerta 9 (040417)

Retakan pada sawah akibat tarikan longsoran pada bagian bawah

 

Sindangkerta 10 (040417)

Longsoran di tebing jalan yang dibagian atas nya merupakan areal persawahan yang mengalamai retakan

 

Sindangkerta 11 (040417)

Rumah yang hancur karena retakan berada pada bagian tengah rumah

 

Sindangkerta 12 (040417)

Lantai rumah retak karena Gerakan Tanah tipe lambat

 

Sindangkerta 13 (040417)

Batuan dasar berupa lava andesit dan tanah pelapukan menumpang di atas lava andesit

 

Sindangkerta 14 (040417)

Tata Guna Lahan berupa pesawahan dan pemukiman di lereng bagian atas

 

Sindangkerta 15 (040417)

Koordinasi Badan Geologi dengan Camat Sindangkerta dan BPBD Kab Bandung Barat