Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kec. Majenang Dan Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim pasca bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Majenang dan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, sebagai berikut:

A. Dusun Jatiluhur, Desa Padangjaya, Kec. Majenang

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Bencana gerakan tanah terjadi di RT 02 RW 05, Dusun Jatiluhur, Desa Padangjaya, Kec. Majenang, Kab. Cilacap, dengan koordinat gerakan tanah (pada titik mahkota) 07o 17’ 06,4” LS dan 108o 47’ 03,84” BT. Bencana gerakan tanah mulai terjadi pada tanggal 16 Januari 2017 yang kemudian secara intensif berkembang sampai tanggal 18 Januari 2017 setelah turun hujan dengan intensitas tinggi selama seminggu sebelumnya. Pada saat pemeriksaan, gerakan tanah masih berlangsung.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana di Dusun Jatiluhur dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal, dengan kemiringan lereng antara 16 - 40°. Lokasi bencana berada pada lereng yang terjal dengan kemiringan > 40o dan ketinggian antara 125 - 190 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang, Jawa, (Kastowo, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1975), kondisi geologi daerah bencana dan sekitarnya disusun atas Formasi Kumbang (Tmpk) berupa breksi gunungapi, lava dan tufa bersusunan andesit sampai basal, batupasir tufaan dan konglomerat; dan Formasi Halang (Tmph) berupa batulempung, napal, dengan sisipan atau perselingan dengan batupasir greywacke gampingan. Berdasarkan pengamatan lapangan tanah pelapukan berupa pasir tufan berwarna coklat kemerahan dengan ketebalan di atas 3 - 4 meter, yang kontak langsung dengan batulempung di bawahnya sebagai bidang gelincir.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan relatif cukup tinggi dikarenakan musim hujan masih berlangsung. Sumber air  di daerah bencana berasal dari sumur dengan kedalaman muka air tanah sekitar 12 m.
  • Tata guna lahan: Tata lahan di sekitar lokasi bencana pada lereng atas berupa kebun campuran, kelapa, mahoni, dan cengkeh, pada lereng bagian tengah berupa jalur jalan dan pemukiman, serta pesawahan pada lereng bagian bawah.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cilacap (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah adalah rayapan (creeping) yang ditunjukkan dengan retakan-retakan, nendatan, dan amblasan pada tanah dan rumah penduduk. Retakan tersebar dari lereng bagian atas hingga bagian bawahnya. Arah retakan relatif seragam dengan kisaran N 25° E hingga N 30° E, ke arah tenggara - selatan. Lebar retakan berkisar antara 10-30 cm, penurunan/amblasan sebesar 10 cm sampai 1,5 m. 

Dampak Gerakan Tanah:

  • 6 (enam) rumah hancur.
  • 17 rumah rusak berat
  • 24 Kepala Keluarga mengungsi
  •  Jalan dusun rusak berat.

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir (breksi dengan batulempung).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 

5.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

Jangka Pendek:

  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada di lereng atas, bagian mahkota longsoran dan jika terjadi perkembangan yang cepat segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsor susulan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah
  • Melihat laju rayapan yang begitu intensif berkembang di pemukiman Dusun Jatiluhur ini maka 6 (enam) rumah hancur dan 17 rumah rusak berat sebaiknya direlokasi. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah untuk merelokasi dan kesediaan masyarakat yang terkena bencana untuk direlokasi.
  • Sebelum dilaksanakan relokasi yang memerlukan waktu panjang maka masyarakat setempat harus lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman longsor susulan, terutama  pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama, masyarakat tidak beraktivitas di area longsoran dan masyarakat harus mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah.
  • Pemerintah desa telah menyiapkan Hunian Sementara (Huntara) untuk korban bencana sebelum adanya proses relokasi permanen, untuk menentukan Huntara yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah maka masyarakat dan pemda setempat agar mengikuti arahan Pemda (BPBD) setempat.
  • Jangka panjang : Memperbaiki fungsi tata guna lahan di sepanjang lereng bagian atas dan bawah yang terkena rayapan, yang semula area pemukiman menjadi lahan tanaman berakar kuat dan dalam.

 

B. Rencana Lahan Relokasi di Dusun Cijeunjing, Desa Cibeunying, Kec. Majenang

 1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Citangkolo, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kab. Cilacap, Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2014 sampai 2016, menyebabkan 35 unit pemukiman mengungsi dan akan direlokasi ke tempat yang lebih aman. Atas dasar kejadian tersebut penduduk yang terkena dampak bencana gerakan tanah akan direlokasi di Dusun Cijeunjing, Desa Cibeunying sehingga perlu kajian geologi terhadap rencana tempat relokasi yang akan dibangun. Daerah rencana relokasi secara geografi terletak pada koordinat 108° 44' 17,6" BT dan 7° 16' 38,7" LS. Jarak dengan lokasi bencana sekitar 1 km, jarak dari pusat kota Majenang sekitar 2 km.

 

2.   Kondisi daerah rencana relokasi:

  • Morfologi: Morfologi di sekitar daerah rencana relokasi merupakan perbukitan landai sampai agak terjal di sekitar permukiman  dengan kemiringan antara 5º sampai 25º, dengan ketinggian antara 748 – 802 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang, Jawa, (Kastowo, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1975), kondisi geologi daerah bencana dan sekitarnya disusun atas Formasi Kumbang (Tmpk) berupa breksi gunungapi, lava dan tufa bersusunan andesit sampai basal, batupasir tufaan dan konglomerat.  Berdasarkan pengamatan lapangan tanah pelapukan tipis berupa pasir tufaan berwarna coklat dengan ketebalan sekitar 0,5 - 1 meter.
  • Keairan: Kondisi keairan atau sumber air di sekitar daerah rencana relokasi dalam kondisi baik, berasal dari air tanah dan saat dilakukan pemeriksaan pemerintah daerah setempat telah membuat sumur bor dan menyiapkan tampungan airnya untuk digunakan penduduk di sekitar lahan relokasi yang nantinya disalurkan pakai pipa untuk keperluan sehari-hari. Pada bagian lembah di sebelah timur terdapat anak sungai di sebelah timur yaitu anak Sungai Cikande.
  • Tata guna lahan: Tata guna lahan pada saat pemeriksaan berupa kebun campuran dan semak belukar. Luas tanah keseluruhan daerah rencana relokasi  ±  1 Ha. Status tanah adalah tanah milik warga. Lokasi ini terletak di depan jalan kabupaten. Pencapaian lokasi sangat baik ke daerah rencana relokasi dengan adanya jalan kabupaten ini (lebar 4 m) dengan kondisi jalan beraspal. Fasilitas listrik sudah masuk ke daerah rencana relokasi.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cilacap (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah Menengah artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan

 

3.  Kesimpulan dan Rekomendasi:

Berdasarkan kondisi Geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah dan fasilitas umum yang menunjang, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Daerah rencana relokasi ini Cukup Layak untuk dijadikan sebagai lahan relokasi.
  • Dari hasil pengamatan lapangan di daerah tersebut tidak terdapat tanda-tanda terjadinya gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun baru.

Untuk menghindari terjadinya gerakan tanah pada masa yang akan datang, maka direkomendasikan, antara lain:

  • Pemukiman ditempatkan di punggungan yang relatif datar - landai ke bagian barat lereng, serta tidak terlalu dekat  ke gawir atau alur sungai kecil yang berada di bagian timur lereng.
  • Bangunan yang cocok untuk wilayah ini adalah bangunan semi permanen yang mempunyai konstruksi ringan seperti bangunan kayu (rumah kayu/rumah panggung) atau rumah permanen dengan konstruksi baja ringan. Hal ini untuk mengurangi beban pada lereng, mengingat akan dibangunnya pemukiman untuk 35 KK dalam tanah seluas ±  1 Ha.
  • Sistem aliran air (drainase) baik itu air permukaan dan air limbah rumah tangga pada lahan ini supaya dialirkan ke topografi yang lebih rendah menuju ke aliran sungai terdekat, dalam hal ini anak sungai Cikande. Sistem saluran tersebut dibuat kedap air atau pipa-pipa agar tidak meresap dan menjenuhi tanah.
  • Hindari kemungkinan adanya genangan air, pembuatan kolam air maupun budidaya lahan pertanian basah di daerah ini.
  • Hindari pembuatan tanah timbunan/tanah urugan yang tidak/kurang padat, karena tanah urugan sering menyebabkan longsoran. Jika harus dilakukan pengurugan tanah untuk keperluan tempat relokasi maka agar dilakukan pemadatan yang baik.
  • Tidak mengubah tata guna lahan pada area sekitar rencana relokasi yang tidak termasuk lahan relokasi.

 

C. Dusun Sindanghayu, Desa Bantarmangu, Kec. Cimanggu

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Bencana gerakan tanah terjadi di Dusun Sindanghayu, Desa Bantarmangu, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, dengan koordinat gerakan tanah (pada titik mahkota) 07o 20’ 52” LS dan 108o 51’ 60,3” BT.

Bencana gerakan tanah kerap terjadi di daerah ini sejak 2005 setiap musim hujan, namun mulai secara intensif berkembang pada tanggal 10 – 12 Desember 2016 setelah turun hujan dengan intensitas tinggi, 60 – 70 mm selama 7 hari. Pada saat pemeriksaan, gerakan tanah masih berlangsung.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana di Dusun Sindanghayu dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal, dengan kemiringan lereng antara 10 - 40°. Lokasi bencana berada pada lereng yang terjal dengan kemiringan > 40o dan ketinggian antara 160 - 190 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang, Jawa, (Kastowo, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1975), kondisi geologi daerah bencana dan sekitarnya disusun atas Formasi Halang (Tmh) berupa batuan sedimen turbidit dengan struktur sedimen yang jelas, batulempung, napal, dengan sisipan atau perselingan dengan batupasir greywacke gampingan.   Berdasarkan pengamatan lapangan tingkat pelapukan sedang, tanah pelapukan tipis berupa pasir lempungan berwarna coklat tua dengan ketebalan di atas 0,5 - 1 meter.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan, relatif cukup tinggi dengan adanya mata air dari Bukit Cempaka yang mengalir baik di musim hujan maupun pada musim kemarau. Mata air banyak terdapat di sekitar lokasi gerakan tanah dengan debit air 5 l/min dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dan untuk pertanian.
  • Tata guna lahan: Lahan di lokasi gerakan tanah dimanfaatkan umumnya sebagai kebun campuran di lereng bagian atas, sedangkan lereng bagian tengah dan bawah berupa pemukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cilacap (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah adalah rayapan (creeping) yang ditunjukkan dengan retakan-retakan, nendatan, dan amblasan pada tanah dan rumah penduduk, secara keseluruhan melingkupi area seluas 5 Ha. Retakan tersebar dari lereng bagian atas hingga bagian bawahnya. Arah retakan relatif seragam dengan kisaran N 65° E, ke arah tenggara. Laju rayapan sangat lambat, sekitar 16 mm/tahun, kejadian gerakan tanah sebelumnya terjadi pada tahun 1987, juga pada tahun 2005 (informasi penduduk dan pemda).

Dampak bencana:

  • 17 rumah rusak berat
  • 125 rumah terancam
  • Jalan dusun rusak
  • Total 178 KK, 571 penduduk di daerah seluas 5 Ha terancam gerakan tanah susulan

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Konsentrasi rumah yang terlalu padat dengan beban rumah-rumah permanen (tembok), sehingga beban di atas tanah tinggi.
  • Di lain pihak daya dukung tanah berkurang akibat tingginya kandungan air di dalam tanah, hal ini dikarenakan sistem drainase permukaan yang kurang baik dimana seluruh air permukaan baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke dalam tanah dan mempercepat berkembangnya longsor
  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 

6.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

Jangka Pendek:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih lama.
  • Apabila ditemukan adanya retakan di sekitar pemukiman, segera dilakukan penutupan dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mengalirkan genangan-genangan yang terdapat pada bagian atas lereng.
  • Selalu memantau perkembangan retakan yang ada pada lereng atas pemukiman dan jika terjadi perkembangan yang cepat segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang (BPBD dan pemda setempat) untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsor susulan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Memperbaiki saluran air/irigasi yang rusak di lereng atas (bagian bawah mahkota longsoran), lihat foto 7.
  • Segera merelokasi 1 (satu) rumah yang terletak menempel pada tebing terjal karena dikhawatirkan terkena dampak longsoran tipe cepat dari atas mahkota longsoran, lihat foto 8.

Jangka Menengah dan Panjang:

  • Pemukiman yang terkena rayapan di Dusun Sindanghayu, Desa Bantarmangu masih layak huni, jika pemukiman dipertahankan maka dengan syarat:
  • Pengarahan aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga, dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.
  • Penataan drainase di sekitar pemukiman dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Mengeringkan kolam air atau genangan air lainnya yang ada di sekitar pemukiman yang telah mengalami gerakan tanah.
  • Mengganti rumah permanen dengan bangunan yang cocok untuk wilayah ini yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan seperti rumah kayu untuk mengurangi pembebanan.
  • Melakukan penanaman pohon dengan akar  yang besar dan dalam untuk meningkatkan daya ikat tanah.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat tebing yang curam dan alur aliran sungai.
  • Tidak mencetak lahan basah dan penampungan air (kolam) pada bagian atas dan bawah lahan yang berdekatan dengan tebing lereng.

Jangka Panjang:

  • Jika laju gerakan tanah berkembang dengan cepat maka rumah-rumah yang rusak berat dan sudah tidak layak huni direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.

 

 

LAMPIRAN

 

Cilacap 1 (170317)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah dan Lahan Rencana Relokasi di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap

 

Cilacap 2 (170317)

Gambar 2. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap

 

Cilacap 3 (170317)

Gambar 3. Peta Geologi Lokasi Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap

 

Cilacap 4 (170317)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Jatiluhur, Desa Padangjaya, Kec. Majenang, Kab. Cilacap

 

Cilacap 5 (170317)

Gambar 5. Penampang situasi gerakan tanah di di Dusun Jatiluhur, Desa Padangjaya, Kec. Majenang, Kab. Cilacap

 

Cilacap 6 (170317)

Gambar 6. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Sindanghayu, Desa Bantarmangu, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap

 

Cilacap 7 (170317)

Gambar 7. Penampang Situasi di Dusun Sindanghayu, Desa Bantarmangu, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap

 

Cilacap 8 (170317)

Foto 1. Kondisi area pemukiman Dusun Jatiluhur yang terkena rayapan; terlihat rumah menggantung pada tebing yang amblas, retakan pada rumah dan tanah sekitar pemukiman, amblasan dan nendatan pada badan jalan dusun dan jalan provinsi.

 

Cilacap 9 (170317)

Foto 2. Menunjukkan amblasan di bagian mahkota longsoran pada lereng atas, di bawah lereng ini berupa area pemukiman Dusun Jatiluhur yang terkena rayapan. Pada saat pemeriksaan ambalasan sudah mencapai 2,5 meter

 

Cilacap 10 (170317)

Foto 3. Daerah rencana relokasi terletak di Dusun Cijeunjing, Desa Cibeunying di bagian barat lereng.

 

Cilacap 11 (170317)

Foto 4. Akses jalan kabupaten dan beraspal menuju daerah rencana relokasi di Dusun Cijeunjing, Desa Cibeunying mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sumber air untuk kebutuhan calon penghuni diperoleh dengan membuat sumur bor, memiliki kedalaman akifer 80 meter. Debit sumur bor ini cukup melimpah dan tetap banyak walaupun musim kemarau.

 

Cilacap 12 (170317)

Foto 5. Menunjukkan aliran anak sungai Cikande yang terletak di lembah (bagian timur dari lahan relokasi) di mana semua aliran air dari air permukaan dan air limbah rumah tangga disalurkan pada anak S. Cikande ini. Sistem saluran tersebut dibuat kedap air atau pipa-pipa agar tidak meresap dan menjenuhi tanah.

 

Cilacap 13 (170317)

Foto 6. Menunjukkan amblasan di bagian mahkota longsoran pada lereng atas, di bawah lereng ini berupa area pemukiman Dusun Sindanghayu yang terkena rayapan. Pada saat pemeriksaan ambalasan sudah mencapai 2 meter namun sebagian sudah rimbun kembali oleh semak belukar.

 

Cilacap 14 (170317)

Foto 7. Menunjukkan amblasan pada saluran irigasi yang terdapat di bawah mahkota longsoran dan di atas pemukiman yang semula kedap air namun rusak sehingga air lolos ke dalam dan menjenuhi tanah lereng menyebabkan lereng bergerak (rayapan). Agar segera diperbaiki, alirannya diarahkan ke lembah (sungai).

 

Cilacap 15 (170317)

Foto 8. Menunjukkan rumah yang menempel pada tebing tinggi, di bawah lereng yang mengalami rayapan (mahkota longsoran dikhawatirkan kena dampak longsoran cepat, penghuninya agar selalu waspada dan mengungsi pada saat dan setelah hujan dengan intensitas tinggi. Jika memungkinkan agar segera direlokasi.

 

Cilacap 16 (170317)

Foto 9. Menunjukkan retakan pada dinding dan lantai rumah penduduk yang masuk kategori rumah rusak berat di Dusun Sindanghayu, Desa Bantarmangu, Kec. Cimanggu.

 

Cilacap 17 (170317)

Foto 10. Kegiatan pemeriksaan dan sosialisasi gerakan tanah yang dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Kab. Cilacap kepada warga dan pemerintah setempat serta penjelasan ke awak media.