Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Bencana Longsor Di Jalur Jalan Raya Payakumbuh – Riau Km17 Kec. Pangkalan, Kab Limapuluh Kota, Prov Sumatra Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah Laporan sementara update bencana longsor di Jalur Jalan Raya Payakumbuh – Riau km17, sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah : 

Gerakan tanah terletak pada koordinat 000 00” 24.6” LS dan 1000 43” 58,1” BT, ketinggian 340 meter diatas muka laut, terjadi pada hari Jumat, 3 Maret 2017 di Jalur Jalan Raya km17 Payakumbuh – Pakanbaru, Jorong Polong Duo, Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat pada hari Jumat 3 Maret 2017 bersamaan dengan hujan deras.

 

2. Jenis Gerakan Tanah : 

Jenis gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan merupakan longsoran tipe bergerak cepat, berawal dari lereng bagian atas jalan raya, dengan pengukuran lebar gerakan tanah 20 – 65 meter, panjang longsoran 35-40 meter, kemiringan lereng 620, arah longsoran N 1530 E dan selanjutnya material longsor ini menerjang badan jalan raya dan menyusuri lereng bagian bawah jalan raya, hingga mencapai ujung lembah sungai di ujung kaki lereng sepanjang 148 meter.

Dari tracking pengeplotan lokasi longsor disepanjang jalan jalan Payakumbuh – Riau dari km 03 – km 25, diperoleh sebanyak 89 titik longsoran dari diameter terkecil lebar 4 meter, panjang 8 meter, dengan kemiringan diatas 450 hingga longsoran utama, lebar 20 – 65 meter, panjang longsoran 35-40 meter.

 

3. Dampak Gerakan Tanah :

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan adalah

  • 8 orang tewas,
  • 2 orang luka berat
  • 7 unit kendaraan roda empat

 

4. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Morfologi daerah gerakan tanah berupa lereng perbukitan Koto Alam bergelombang sedang – kasar dengan kemiringan lereng kemiringan sekitar 12 – 620. Terdapat sungai besar S. Maek mengalir melalui Kecamatan Pangkalan di utara daerah bencana yang meluap menyebabkan banjir bersamaan dengan terjadinya longsor. Adapun badan jalan raya yang terkena longsor terletak di tengah-tengah lereng terjal dengan lebar 7 – 10 meter, dan pada bagian kaki lereng bagian bawah terdapat alur sungai, merupakan sungai “temporer” (berair pada musim hujan, kering pada musim kemarau)
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pakanbaru (Puslitbang Geologi, Clark dkk,    Tahun 1982), daerah bencana tersusun oleh batuan lava, aglomerat dan lahar, dan longsor terjadi pada batuan lava yang telah mengalami pelapukan kuat dengan tebal 1 – 3 meter. Struktur geologi sesar Sumatra masih berpengaruh di lokasi bencana yang ditunjukkan oleh bentuk jalur jalur perbukitannya.
  • Tata Guna Lahan dan Keairan, Tata guna lahan pada umumnya berupa belukar bervariasi dari tanaman kecil hingga besar, beberapa tempat ditanami kelapa sawit. Terdapat beberapa pemukiman secara sporadis di bawah lereng terjal pada sisi kiri dan kanan jalan raya. Di sekitar daerah lokasi bencana juga dijumpai adanya lahan digunakan untuk penambangan bahan galian batuan andesit (golongan C) yang ditambang dengan “blasting”, berjarak datar 173 meter dari lokasi utama longsor. Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berupa air permukaan yang cukup  melimpah terutama pada musim hujan, sedangkan untuk keperluan masyarakat sehari-hari, air diambil dari mata air yang dialirkan melalui selang-selang sederhana dari mata air yang keluar di kaki kaki lereng dan mengalir diantara sela sela batuan.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Lembar Limapuluh Kota (PVMBG, Badan Geologi, 2014 dan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Maret 2017 Provinsi Sumatra Barat), lokasi gerakan tanah berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya daerah ini mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang lunak, gembur, sarang dan tebal 1 - 3 meter.
  • Kemiringan lereng yang terjal – curam (> 600 )
  • Faktor keairan, banyak air dari mata air yang keluar dari tebing yang menjenuhi lereng sementara tidak didukung oleh drainase yang baik
  • Hujan lebat yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah dan mudah bergerak.
  • Ada kemungkinan karena pengaruh beban dan getaran (bisa gempa bumi, kendaraan, dan atau blasting)

 

6. Mekanisme :

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air meresap masuk kedalam tanah pelapukan yang bersifat sarang dan gembur serta air akan terakumulasi pada batas tanah pelapukan dengan batuan dasar lava, selanjutnya tanah menjadi jenuh air. Keadaan ini mengakibatkan bobot masa tanah dengan tingkat kejenuhan meningkat tinggi, berakibat kestabilan lereng terganggu, dan dipicu oleh kemiringan lereng yang terjal serta gaya gravitasi menyebabkan masa tanah bergerak cepat menjadi longsoran bahan rombakan.

 

7.  Rekomendasi Teknis :

Dari hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan hal hal berikut :

  • Segera dilakukan pembersihan material longsoran
  • Perlu kewaspadaan masyarakat baik yang melihat bekas longsor maupun masyarakat yang tinggal di sekitar tebing terutama bagi pengguna jalan payakumbuh – riau harus sangat waspada karena masih berpotensi terjadi longsoran susulan pada saat hujan.
  • Tidak menggali/memotong lereng secara terjal/tegak
  • Tidak menebang pohon-pohon (tanaman keras) terutama pada lereng terjal dan bekas longsoran ditanami kembali dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan lereng.
  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di sepanjang jalan raya
  • Perlu dibuat penguat lereng tebing

 

 

LAMPIRAN

 

Payahkumbuh 1 (160317)

Payahkumbuh 2 (160317)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah

 

Payahkumbuh 3 (160317)

Gambar 2. Peta Situasi Gerakan Tanah

 

Payahkumbuh 4 (160317)

Gambar 3. Peta Geologi Daerah Bencana

 

Payahkumbuh 5 (160317)

Gambar 4.  Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Bulan Maret 2017   Provinsi Sumatra Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI PROVINSI SUMATERA BARAT

 BULAN MARET 2017

Payahkumbuh 6 (160317)

Keterangan:

Payahkumbuh 7 (160317)

 

Payahkumbuh 8 (160317)

Gambar 5. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Daerah Bencana

 

Payahkumbuh 9 (160317)

Gambar 6.  Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Limapuluh Kota

 

Payahkumbuh 10 (160317)

Foto 1. Kenampakan longsor pada bagian atas badan jalan raya km 17 Payakumbuh - Riau

 

Payahkumbuh 11 (160317)

Foto 2. Kenampakan longsor pada bagian bawah badan jalan raya km 17 Payakumbuh – Riau

 

Payahkumbuh 12 (160317)

Foto 3. Koordinasi dengan Dinas ESDM Prov Sumbar dan sosialisasi longsor kepada aparat BPBD Kab. Limappuluh Kota