Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Kec. Kertanegara, Kab. Purbalingga Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana gerakan tanah di wilayah Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari BPBD Kabupaten Purbalingga. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah/ tanah longsor terjadi di Dukuh Karangpoh, Desa Dharma, Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga. Kejadian gerakan tanah sering terjadi di bukit diatas perkampungan Karangpoh dan alat landslide early warning system tidak merekan dengan baik kejadian tersebut. Kejadian gerakan tanah terakhir kali terjadi sekitar bulan Januari 2017, dan batu yang menggantung dibukit mengakibatkan masyarakat khawatir dan mengungsi jika musim hujan. Koordinat area longsoran 109° 25’ 37.9” BT dan 7° 15’ 25.2”BT

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Dukuh Karangpoh, Desa Dharma, Kecamatan Kertanegara, adalah longsoran dangkal (shallow landslide) karena tanah pelapukan di lokasi ini tipis, sehingga potensi tanah longsor dalam skala besar yang dikhawatirkan sangat kecil. Namun yang perlu diwaspadai jika longsoran tersebut menutup aliran alur sungai karena bisa berpotensi menjadi aliran bahan rombakan. Serta sebuah batu berukuran besar yang menggantung di bukit yang berpotensi terjadinya rock fall

 

3. Dampak gerakan tanah 

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

  • Dua rumah rumah (10 jiwa terancam)
  • Masyarakat RT 4 dan 5/ RW1 Dukuh Karangpoh Khawatir dan mengungsi ketempat yang lebih aman jika hujan lebat

 

4. Kondisi daerah bencana
  • Morfologi, Secara umum topografi di sekitar Karangpoh berupa lereng perbukitan dengan ketinggian antara 325 - 575 meter di atas permukaan laut. Lokasi daerah bencana merupakan perbukitan dengan lereng terjal (40°).
  • Kondisi Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa breksi andesit, yang bagian bawahnya berupa selang seling batupasir, napal dan batu lempung (Formasi Tapak) dan diatasnya berupa tanah pelapukan pasir lempung dengan ketebalan kurang dari 2 meter.
  • Tata guna lahan dan Keairan, Tata lahan pada bagian atas berupa hutan pinus dan alang-alang. Sedangkan di bagian bawah berupa pemukiman dan sawah.  Muka air tanah di daerah ini berkisar lebih dari 5 meter.
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga bulan Februari 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah artinya daerah ini mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Kondisi geologi berupa batuan andesit menjadi potensi jatuhan batu yang sudah menggantung karena kekar dan kelerengan terjal (40°).
  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 

6. Mekanisme:

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi pada batas tanah lapuk dengan napal. Air kemudian meresap pada tanah pelapukan yang bersifat sarang, sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Karena tanah pelapukan di lokasi yang tipis, maka terjadilah gerakan tanah tipe longsoran dangkal (shallow landslide), sehingga potensi tanah longsor dalam skala besar yang sangat kecil. Batuan andesit tersingkap di lokasi gerakan tanah, dengan batuan yang sudah ngalami retak-retak serta menggantung di lereng yang curam, bila terjadi hujan memiliki potensi untuk lepas dan jatuh.

 

7. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Untuk mengurangi risiko terhadap ancaman batu sebaiknya dipasang jaring batu (rock nail) atau dipasang kawat bronjong yang dibentangkan (minimal 2 bari di atas dan dibawah) untuk menangkap jika batu tersebut jatuh. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kecepatan dan jarak luncur batu jika jatuh
  • Masyarakat yang terancam harap meningkatkan kewaspadaan terutama 2 rumah di bagian atas (Rumah Bpk. Kartuji dan Daroji) .
  • Tipe gerakan tanah adalah longsoran dangkal (shallow landslide) karena tanah pelapukan di lokasi ini tipis, sehingga potensi tanah longsor dalam skala besar yang dikhawatirkan sangat kecil. Namun yang perlu diwaspadai jika longsoran tersebut menutup aliran alur sungai karena bisa berpotensi aliran bahan rombakan.
  • Masyarakat harap mewaspadai jika air keruh dan pada saat hujan aliran berhenti atau aliran alur sungai terbendung.
  • Masyarakat senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan jangan mengandalkan alat LEWS yang terpasang, hal ini karena sensor ektensometer tidak dapat mendeteksi pergerakan yang ada diatas. Namun untuk sensor curah hujan masih bisa diandalkan, tetapi harus bukaan 45°, dan perlu dilihat lagi besarnya curah hujan pemicu di daerah tersebut. Hal ini terbukti pada saat longsor terjadi alarm LEWS tidak berbunyi.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsoran susulan
  • Tidak beraktifitas di bawah material longsoran, lereng bagian atas jika hujan lebat

 

 

LAMPIRAN

 

Darma 1 (160317)

Peta lokasi daerah bencana

 

Darma 2 (160317)

Peta Geologi di daerah Karangpoh dan sekitarnya

 

Darma 3 (160317)

Peta Prakiraan Wilayah Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga Bulan Februari 2017

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI KABUPATEN PURBALINGGA,

 PROVINSI JAWA TENGAH BULAN FEBRUARI 2017

Darma 4 (160317)

Keterangan :

Darma 5 (160317)

 

Darma 6 (160317)

Peta situasi gerakan tanah di lokasi bencana

 

Darma 7 (160317)

Gambar Penampang A – B

 

Darma 8 (160317)

Pemukiman di RT 4 dan 5, Dukung Karangpoh. Desa Darma yang khawatir terancam longsoran tanah dan runtuhan batu

 

Darma 9 (160317)

Tanah pelapukannya sangat tipis sehingga potensi tanah longsor sampai ke pemukiman kecil, namun yang lebih diwaspadai adalah potensi jatuhan batu yang sudah menggantung karena kekar dan kelerengan terjal (40°).

 

Darma 10 (160317)

Alat LEWS Milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Terdiri dari Curah Hujan dan Ekstensometer), dari pengamatan lapangan ekstensometer tidak memungkinkan memantau pergerakan di bukit atas, namun curah hujan masih bisa dimanfaatkan namun beberapa pohon menutupi sehingga data tidak maksimal.

 

Darma 11 (160317)

Tim Badan Geologi menjelaskan bagaimana efektivitas dan saran agar curah hujan bisa menangkap data secara maksimal peralatan LEWS dipasang

 

Darma 12 (160317)

Tim Badan Geologi, Aparat Desa Darma dan Aparat BPBD meninjau kondisi Puncak Bukit yang Mengancam Pemukiman Desa Darma