Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat berdasarkan Surat Permohonan Kajian Geologi dari Bupati/BPBD Kabupaten Bandung Yang Bernomor 364/70/BPBD Hasil pemeriksaan sebagai berikut, sebagai berikut :

A. Kp. Giriluyu RT.003 RW.007, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali. 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi bibir sungai tepatnya di Kampung Giriluyu RT.003 RW.007, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat : 107° 15' 36,91" BT dan 7° 11' 52,81"LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu tanggal 25 Januari 2017.

 

2. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana, pada bagian atas berupa lereng perbukitan  terjal dengan ketinggian 900 -1100 meter di atas permukaan laut yg memanjang dari arah Barat ke Timur dengan kemiringan lereng 15 - 70°. Sedangkan pada bagian bawah lebih landai dengan kemiringan 10 - 15°. Dibagian hulu sungai terdapat tiga air terjun yang cukup tinggi dan semuanya mengalir ke sungai lokasi gerakan tanah.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana adalah breksi andesit dan breksi tuf yang termasuk kedalam Lahar dan Lava produk dari Gunung Kendeng (Ql (k,w)) yang diperkirakan berumur Kuarter dibagian atas dan endapan vulkanik piroklastika (Qtv) berupa breksi andesit, breksi tuf dan tuf lapili di bagian bawahnya. (M.Koesmono dkk, 1996).
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana sangat berlimpah. Diperbukitan bagian atas banyak terdapat mata air dan dan terdapat juga air terjun yang cukup tinggi sehingga air tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga untuk keperluan sehari-hari. Banyak juga terdapat rembesan-rembesan air pada tekuk lereng.
  • Tata guna lahan, Daerah lokasi gerakan tanah berada dibibir sungai. Pada bagian samping lokasi atau arah Barat dan Timur nya merupakan daerah pemukiman. Sedangkan pada bagian Selatan terdapat jalan dan jembatan. Dibagian bawahnya merupakan areal persawahan. Pada lereng bagian atas berupa kebun campuran. Di bagian hulu sungai terdapat tiga air terjun yang semuanya mengalir ke sungai lokasi gerakan tanah, yang sekarang dijadikan objek wisata untuk penghasilan warga desa setempat.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung bulan Januari 2017 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di bibir sungai yang terletak di Kampung Giriluyu berupa longsoran bahan rombakan dengan lebar longsoran 14 meter, panjang 3,5 meter, dan tinggi 3,1 meter. Kemiringan sekitar 62º dengan arah longsoran N 215º E mengarah ke sungai. Material yang terkena longsor merupakan hasil pelapukan dari breksi vulkanik yang menumpang diatas batuan breksi vulkanik yang masih segar dan keras/kompak. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada 25 Januari 2017. Dampak bencana menyebabkan :

  • Tembok penahan dinding sungai runtuh
  • 1 mesjid dan 1 Madrasah terancam
  • 1 Jembatan terancam

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Tanah pelapukan yang berasal dari batuan breksi vulkanik (Lava dan lahar Gunung Kendeng (Ql)) mempunyai tingkat porositas yang tinggi dan mudah luruh oleh air.
  • Kontak permeabilitas berupa tanah hasil pelapukan dengan breksi andesit dibagian dasar sungainya.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Arus dan debit air ketika hujan turun sangat besar dan kuat sehingga terjadi penggerusan/erosi disepanjang bibir sungai.
  • Pembuatan dinding tembok sungai yang terlalu tegak.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Adanya erosi samping (lateral) pada tebing sungai pada saat terjadi banjir menyebabkan terjadinya longsoran-longsoran tebing sungai. Adanya kemiringan lereng yang curam – tegak serta tanah/batuan yang jenuh air, maka tanah/batuan di lereng atasnya tidak stabil dan bergerak turun dan terjadilah gerakan tanah berupa longsoran batu, nendatan, longsoran bahan rombakan dan retakan. Gerakan tanah ini secara umum bergerak secara lambat dan merusakkan bangunan di atasnya.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut:

  • Membuat bangunan penahan erosi (tembok penahan) pada tebing sungai di sekitar lokasi jembatan  dengan  dasar bangunanya harus masuk ke dalam batuan dasar (breksi) atau memperpanjang bangunan penahan erosi
  • Menata saluran air permukaan dan air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Tidak membuat kolam/genangan serta mengeringkan kolam/genangan yang ada pada daerah tersebut.
  • Tidak melakukan penggalian secara curam/tegak pada lereng.
  • Normalisasi aliran sungai agar aliran sungai tidak menggerus lahan disekitar bantaran sungai
  • Retakan agar ditutup dengan tanah lempung dan dipadatkan
  • Menanami daerah rawan longsor  dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menjaga kestabilan  lereng.
  • Daerah bencana sudah tidak stabil, maka rumah-rumah di sekitar tebing/gawir terjal yang rusak perlu direlokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Memasang rambu rawan longsor/banjir bandang pada jalur jalan yang melintasi sungai dan sekitar tebing jalan.
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah/longsor dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

B. Kp. Cisabuk RT.002 RW.007, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali. 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi bibir Sungai Cisabuk tepatnya di Kampung Cisabuk RT.002 RW.007, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat : 7° 11' 50.6" LS dan 107° 15' 10.2" BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin tanggal 30 Januari 2017.

 

2. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Secara umum daerah bencana, pada bagian atas berupa lereng perbukitan  terjal dengan ketinggian 900 -1100 meter di atas permukaan laut yang memanjang dari arah Barat ke Timur dengan kemiringan lereng 15 - 90°. Sedangkan pada bagian bawah lebih landai dengan kemiringan 10 - 15°. Dibagian hulu Sungai Cisabuk terdapat air terjun yang cukup tinggi dan mengalir ke sungai lokasi gerakan tanah, Sungai Cisabuk juga merupakan perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana adalah breksi andesit dan breksi tuf yang termasuk kedalam Lahar dan Lava produk dari Gunung Kendeng (Ql (k,w)) yang diperkirakan berumur Kuarter dibagian atas dan endapan vulkanik piroklastika (Qtv) berupa breksi andesit, breksi tuf dan tuf lapili di bagian bawahnya. (M.Koesmono dkk, 1996).
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana sangat berlimpah. Diperbukitan bagian atas banyak terdapat mata air dan dan terdapat juga air terjun yang cukup tinggi sehingga air tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga untuk keperluan sehari-hari. Banyak juga terdapat rembesan-rembesan air pada tekuk lereng.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan di Kp. Cisabuk pada lereng bagian atas berupa ladang dan kebun campuran, pada bagian tengah lereng berupa permukiman dan jalan sedangkan pada bagian bawah lereng berupa sawah. Pada lereng bagian barat mengalir Sungai Cisabuk yang mengalir cukup deras pada musim hujan yang terisi oleh batuan yang tertransportasi dari lereng atas Sungai Cisabuk, sungai ini menjadi batas administrasi antara Kab. Bandung dan Kab. Cianjur.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung bulan Januari 2017 (PVMBG-Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah tinggi artinya daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di bibir Sungai Cisabuk yang terletak di Kampung Cisabuk berupa longsoran bahan rombakan. Terdapat 2 longsoran tebing sungai, tebing bagian barat dengan lebar longsoran 26 meter, panjang 8,5 meter, dan tinggi 7 meter, Kemiringan sekitar 57º dengan arah longsoran N 240º E mengarah ke sungai. Sedangkan di tebing bagian barat berjarak 10 meter ke arah hulu sungai dari longsoran pertama dengan lebar longsoran 14 meter, panjang 12 meter, dan tinggi 10 meter, Kemiringan sekitar 54º dengan arah longsoran N 105º E mengarah ke sungai. Aliran sungai yang deras dan banyak bahan rombakan di sungai menyebabkan hancurnya 1 jembatan dengan lebar 2,5 meter yang merupakan akses jalan penghubung antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur. Material longsor merupakan hasil pelapukan dari Lahar dan Lava produk dari Gunung Kendeng yang menumpang diatas batuan breksi vulkanik yang masih segar dan keras/kompak dibawahnya. Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada 25 Januari 2017.

Dampak bencana menyebabkan :

  • 1 Jembatan hancur penghubung Jalan kabupaten Bandung dan kabupaten Cianjur
  • 2 unit rumah terancam

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Morfologi lereng sungai yang curam/tegak.
  • Kemiringan lereng yang agak curam sampai hampir tegak mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tanah pelapukan yang berasal dari batuan breksi vulkanik (Lava dan lahar Gunung Kendeng (Ql)) mempunyai tingkat porositas yang tinggi dan mudah luruh oleh air.
  • Sifat fisik batuan yang kurang padu, serta tanah pelapukan vulkanik yang tebal, mudah meresapkan air (porus) dan luruh jika terkena air, serta batuan dasar (breksi) yang kurang padu dan mudah meresapkan air.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Arus dan debit air ketika hujan turun sangat besar dan kuat sehingga terjadi penggerusan disepanjang bibir sungai dan dapat membawa material longsoran disepanjang jalur sungai.
  • Posisi permukaan badan jembatan yang setara tinggi permukaan sungai dengan kolong jembatan yang sempit berfungsi menghambat jalannya  bahan rombakan yang dibawa air sungai

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Adanya kemiringan lereng yang curam – tegak pada bagian hulu sungai serta tanah/batuan yang jenuh air, maka  saat curah hujan tinggi akan mengakibatkan  tanah/batuan di lereng atasnya tidak stabil dan bergerak turun dan terjadilah gerakan tanah berupa longsoran batu dan longsoran bahan rombakan.Selama  perjalanannya sejak dari hulu sungai, debit air  sungai yang besar  bergerak membawa bahan rombakan dan  mengerosi (erosi samping (lateral)) pada tebing Sungai Cisabuk juga menyebabkan  terjadinya longsoran-longsoran tebing sungai dan aliran bahan rombakan berupa bongkah batuan dan kayu kayu. Saat aliran sungai tersebut melintasi  permukaan jembatan yang tingginya hampir setara  permukaan sungai dan lebar kolong jembatan yang sempit, jembatan  tidak mampu menahan derasnya air yang membawa material bahan rombakan sehingga  menyebabkan runtuhnya  tubuh  jembatan.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, untuk mengantisipasi agar jembatan dapat terus berfungsi dan tidak rusak diterjang aliran bahan rombakan yang melintasi sungai maka direkomendasikan sebagai berikut: 

  • Memasang rambu rawan longsor/banjir bandang pada jalur jalan yang melintasi sungai dan sekitar tebing jalan
  • Membangun kembali jembatan dengan mengikuti  kondisi morfologi dan geologi lokasi bencana.
  • Mengingat lebar lembah sungai Cisabuk yang sempit, pondasi  bangunan jembatannya tidak bertumpuh pada dasar/lembah  agar tidak menghambat laju air sungai yang membawa material bahan rombakan.
  • Membangun pondasi jembatan di luar lembah  sungai Cisabuk ,dengan dasar pondasi jembatan (abutment) harus sampai ke batuan dasar (breksi). Dasar pondasi jembatan perlu dicor semen agar tidak tergerus air.
  • Untuk mengantisipasi banjir yang membawa bahan rombakan, agar  membangun saluran pengelak di S. Cisabuk. Saluran itu berfungsi untuk memecah dan meluruskan aliran air bila terjadi banjir membawa yang bahan rombakan.
  • Menata saluran air permukaan dan air limbah rumah tangga dengan kontruksi yang kedap air.
  • Membuat bangunan penahan erosi (tembok penahan) pada tebing sungai disekitar lokasi jembatan  dengan  dasar bangunanya harus masuk ke dalam ke batuan dasar (breksi) atau memperpanjang bangunan penahan erosi.
  • Normalisasi aliran sungai agar aliran sungai tidak menggerus lahan disekitar bantaran sungai
  • Tidak membuat kolam/genangan serta mengeringkan kolam/genangan yang ada pada daerah tersebut.
  • Menutup retakan dengan tanah liat (lempung) yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk dan menjenuhi tanah.
  • Tidak melakukan penggalian secara curam/tegak pada lereng.
  • Menanami daerah bencana disepanjang alira sungai dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam yang berfungsi menahan lereng.
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Melakukan  sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

 

Cipelah 1 (150317)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Cipelah 2 (150317)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANDUNG

PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN FEBRUARI 2017

Cipelah 3 (150317)

Keterangan :

Cipelah 4 (150317)

 

Cipelah 5 (150317)

Gambar 3. Peta prakiraan potensi terjadi gerakan tanah pada bulan Januari 2017 Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Cipelah 6 (150317)

Gambar 4. Peta Situasi gerakan tanah di lokasi bencana Kp. Giriluyu, Desa Cipelah

 

Cipelah 7 (150317)

Gambar 5. Peta Situasi gerakan tanah di lokasi bencana Kp. Cisabuk, Desa Cipelah

 

Cipelah 8 (150317)

Gambar 6. Sketsa Situasi Gerakan tanah di Kp. Giriluyu, Desa Cipelah

 

Cipelah 9 (150317)

Gambar 7. Peta Lokasi Penampang Morfologi di Desa Cipelah

 

Cipelah 10 (150317)

Gambar 8. Sketsa Penampang Morfologi di Kp. Cisabuk, Desa Cipelah

 

Cipelah 11 (150317)

Foto 1. Longsoran dan retakan di bibir sungai yang mengancam madrasah dan mesjid di Kp. Giriluyu, Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung

 

Cipelah 12 (150317)

Foto 2. Mahkota longsoran di bibir Sungai Cisabuk yang menghancurkan jembatan penghubung antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur

 

Cipelah 13 (150317)

Foto 3. Retakan yang mengancam Madrasah di Kp. Giriluyu, Desa Cipelah.

 

Cipelah 14 (150317)

Foto 4. Longsoran di bibir bagian barat Sungai Cisabuk yang berjarak sekitar 20 meter dari jembatan yang terputus

 

Cipelah 15 (150317)

Foto 5. Longsoran di bibir bagian timur Sungai Cisabuk yang berjarak sekitar 50 meter dari jembatan yang terputus

 

Cipelah 16 (150317)

Foto 6. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Bandung

 

Cipelah 17 (150317)

Foto 7. Sosilalisasi dengan kepala dusun dan masyarakat di Kp. Cisabuk, Desa Cipelah