Laporan Singkat Pemeriksaan Banjir Di Das Cimanuk Kab. Garut, Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan Tim Tanggap Darurat bencana banjir di DAS Cimanuk Kabupaten Garut, sebagai berikut: 

1. Lokasi bencana:

Berdasarkan informasi media cetak dan elektronik serta informasi langsung dari lapangan, kejadian bencana banjir bandang di Garut terjadi pada hari Rabu (21 September 2016) dini hari. Menurut informasi warga, jalan yang digunakan sebagai lalu lintas di sekitar Garut Kota dan Tarogong Kidul dipenuhi air dari luapan air sungai. Lokasi bencana banjir bandang itu sendiri merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk. DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak - anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan di hulu sampai ke hilir secara alami.

 

2.   Kondisi daerah bencana: 

  • Morfologi: Secara regional, morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk dibatasi dan dikelilingi oleh topografi berupa pegunungan atau punggungan, dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut, dalam hal ini bagian muaranya di Laut Jawa. Morfologi di sekitar lokasi banjir bandang merupakan perbukitan landai, kelokan dan dataran banjir (flood plain) di sepanjang aliran sungai Cimanuk.   Kemiringan lereng pada bagian lembah sungai memiliki kemiringan antara  0º sampai 5º. 
  • Geologi: Kabupaten Garut berada dalam Peta Geologi yang berskala 1 : 100.000 pada Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Garut dan Pameungpeuk, serta Tasikmalaya dengan urutan kelompok batuan penyusun di wilayah Kabupaten Garut dari tua ke muda (Miosen - Kuarter) yaitu Formasi Jampang (Tomj) yang  merupakan formasi tertua berumur Miosen tediri dari lava andesit terkekarkan, breksi andesit mengandung hornblende, sisipan tuf hablur halus, sempat terpropilitkan dan batuan terobosan diorite kursa. Formasi termuda yaitu Aluvium (Qa) yang berumur Kuarter berupa lempung, lanau, pasir halus hingga kasar dan kerikil serta bongkah-bongkah batuan beku dan sedimen. Lokasi bencana, termasuk ke dalam Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa Barat (Alzwar, dkk., 1992), merupakan aliran sungai yang disusun oleh batuan rempah lepas vulkanik muda tak teruraikan, alluvium dan endapan fluvial. Juga terdapat indikasi struktur berarah Barat Daya-Timur Laut dan Barat Laut-Tenggara. 
  • Keairan: Data curah hujan belum bisa dijadikan acuan, karena tidak didapatkannya data yang dihasilkan dari stasiun curah hujan. Berdasarkan pengamatan lapangan,beberapa lokasi di bawah ini yang merupakan pemasok utama air ke sungai Cimanuk. Lokasi pengamatan, yaitu:
  1. Hulu sungai Cimanuk di Desa Ciburuy, Kec. Bayongbong. Posisi Geografis 1070 48' 18.13" BT dan 7o 17' 14.33" LS, teramati adanya bekas luapan air yang melimpasi sisi sungai.
  2. Pertemuan sungai Cibolang dengan sungai Cimanuk di Kecamatan Bayongbong. Secara geografis lokasi bencana ini terletak pada koordinat 107o 48' 59.37" BT dan 7o 16' 15.58" LS, teramati adanya bekas luapan air yang melimpasi sisi sungai.
  3. Sungai Ciroyom, yang merupakan cabang/anak sungai Cikamiri. Secara geografis lokasi bencana ini terletak pada koordinat 107o 49' 46.38" BT dan 7o 14' 57.83" LS, teramati adanya bekas luapan air yang melimpasi sisi sungai.
  4. Sungai Cigarukgak, yang merupakan cabang/anak sungai Cikamiri. Secara geografis lokasi bencana ini terletak pada koordinat 107o 49' 46.38" BT dan 7o 14' 57.83" LS, teramati adanya bekas luapan air yang melimpasi sisi sungai.
  5. Sungai Cikamiri, yang merupakan cabang/anak sungai Cimanuk. Secara geografis lokasi bencana ini terletak pada koordinat 107o 49' 24.77" BT dan 7o 12' 23.77" LS, teramati adanya bekas luapan air yang melimpasi sisi sungai. 
  • Tata guna lahan: Lahan di sekitar  lokasi banjir bandang secara umum adalah kebun campuran, pesawahan, dan area pemukiman. Kebun campuran menempati bagian hulu, pesawahan menempati bagian tengah yang merupakan daerah aliran irigasi. Area pemukiman padat berada di bantaran sungai daerah perkotaan.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Garut, lokasi banjir bandang merupakan wilayah sepanjang aliran sungai yang berpotensi terjadinya aliran bahan rombakan. Pada lokasi tertentu, terutama yang memiliki kemiringan lereng agak terjal, termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi. Berdasarkan peringatan dini berupa Peta Prakiraan Potensi Bencana Gerakan Tanah Kabupaten Garut bulan September 2016, wilayah yang terjadi bencana banjir bandang termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah-Tinggi.

 

3. Dampak banjir yang ditimbulkan

Banjir bandang yang terjadi di aliran sungai Cimanuk melanda daerah sepanjang aliran sungai dengan jarak landaan limpasan banjir lebih kurang 1 - 50m. Dampak banjir bandang meliputi areal di 7 kecamatan, yaitu : Kec. Bayongbong, Kec. Tarogong Kidul, Kec. Tarogong Kaler, Kec. Garut Kota, Kec. Banyuresmi,  dan Kec. Karangpawitan. 

Dampak yang ditimbulkan oleh banjir bandang:

  • Pemukiman di bantaran sungai rusak ringan sampai rusak berat, di beberapa tempat terlanda lumpur setinggi 20cm
  • Pesawahan dan ladang rusak ringan, di lokasi tertentu, terlanda lumpur hasil pengangkutan sedimen oleh arus sungai.
  • Tembok penahan erosi rusak di beberapa tempat akibat tergerus air.
  • Sisi sungai di sepanjang aliran sungai Cimanuk banyak yang tererosi.
  • Terputusnya jembatan yang menghubungkan Desa Patrol, Banyuresmi dan Desa Cijambe, Karangpawitan.
  • 33 korban meninggal dunia dan 20 orang hilang (sampai tanggal 25 September 2016)

  

4.  Faktor penyebab terjadinya banjir bandang :  

Secara umum, banjir bandang yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Cimanuk disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan tinggi yang mengakibatkan debit air di sungai Cimanuk bertambah besar.
  • Vegetasi di daerah hulu sungai Cimanuk dan anak sungainya kurang mampu menyimpan air.
  • Erosi lateral oleh aliran sungai Cimanuk yang menyebabkan sedimentasi yang tinggi
  • Topografi lereng di daerah hulu memiliki presentasi kemiringan lereng 14-55% atau masuk dalam klasifikasi agak curam - curam. 

 

5.  Mekanisme terjadinya banjir bandang

Terminologi banjir bandang secara umum adalah banjir besar yang datang dengan tiba-tiba dan mengalir deras menghanyutkan benda-benda besar (kayu dan sebagainya). Sedangkan menurut Badan Geologi banjir bandang adalah suatu aliran cepat yang merupakan campuran material bahan rombakan berupa batuan dan lumpur yang merupakan hasil runtuhnya bendung alam yang terbentuk dari longsoran-longsoran kecil yang terjadi di hulu.

Berdasarkan pemeriksaan di lokasi pengamatan, tidak ditemukan adanya indikasi aliran bahan rombakan dan bendung alami, sebagai indikasi bahwa banjir bandang tersebut berasosiasi dengan aliran bahan rombakan (Debris Flow). Yang teramati adalah lumpur serta kayu dari rumah-rumah yang hanyut terbawa air, sehingga kemungkinan besar banjir bandang ini diakibatkan karena adanya pasokan air yang cukup tinggi di aliran sungai Cimanuk. Curah hujan yang tinggi dan vegetasi di daerah hulu yang kurang mampu menyimpan air, yang dicirikan dengan kurangnya areal hutan. Kondisi tersebut diperkirakan tidak mampu menginfiltrasi air dengan cepat ke dalam tanah, sehingga pasokan air ke anak/cabang sungai yang berhulu di G. Papandayan, G. Cikuray dan G. Guntur meningkat. Debit air dari sungai Cikamiri yang berhulu di G. Guntur lebih besar, ini dimungkinkan karena pasokan air di sungai Cikamiri dari dua anak sungai, yaitu sungai Ciroyom dan sungai Cigarukgak debit airnya juga besar. Akumulasi air dari anak/cabang sungai yang berkumpul di sungai Cimanuk mengakibatkan bertambahnya volume air sungai di pertemuan anak/cabang sungai Cimanuk. Ruas sungai yang sempit mengakibatkan terhambatnya aliran air, sehingga melimpasi bagian sisi (kanan dan kiri) sungai Cimanuk.

 

6. Rekomendasi

  • Mengingat debit sungai masih tinggi, masyarakat yang beraktifitas di bantaran sungai Cimanuk agar waspada terhadap longsor yang disebabkan erosi oleh arus air.
  • Merehabilitasi tembok penahan erosi  di daerah bantaran sungai.
  • Memelihara vegetasi di bagian hulu sungai untuk mengurangi erosi permukaan.
  • Agar masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah setempat.
  • Pemukiman di bantaran sungai yang terdampak banjir bandang, dipertimbangkan untuk di relokasi ke tempat yang lebih aman.

 

LAMPIRAN

Garut 1 (041016)

Gambar 1. Peta alur sungai Cimanuk yang terlanda banjir bandang

 

Garut 2 (041016)

Gambar 2. Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Garut bulan September 2016 (PVMBG)

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN SEPTEMBER 2016

Garut 3 (041016)

 

Garut 4 (041016)

(A)

Garut 5 (041016)

(B)

Foto 1. Pemeriksaan ini dilakukan di bagian hulu sungai Cimanuk untuk mengetahui penyebab banjir,yang dikhawatirkan sebagai aliran bahan rombakan.  Foto (a)  merupakan bagian sungai Cimanuk di bagian arah ke hulu, di perbatasan Bayongbong dan Cisurupan. Foto (b) Longsoran di tebing sungai Cimanuk, material longsor tidak sampai ke sungai Cimanuk.

 

Garut 6 (041016)

Sungai Ciroyom

Garut 7 (041016)

Sungai Cigarukgak

Foto 2.  Sungai Ciroyom dan sungai Cigarukgak, merupakan anak/cabang sungai Cikamiri. Di lokasi sungai Cigarukgak, limpasan banjir menerjang 7 rumah. Tidak didapati bongkah dan pohon/akar, yang terbawa oleh air, hanya lumpur dan material dari rumah yang rusak terbawa hanyut.

 

Garut 8 (041016) Garut 9 (041016)

Foto 3. Kondisi pemukiman dan bantaran S.Cimanuk di sekitar jembatan Kerkof yang hancur di terjang banjir. Tidak didapati bongkah dan pohon/akar, yang terbawa oleh air, sebagai indikasi aliran bahan rombakan, hanya lumpur dan material dari rumah yang rusak terbawa hanyut.

 

Garut 10 (041016) Garut 10 (041016) 1
Foto 4. Kondisi Kp. Cimacan, nampak jejak air di bangunan dengan ketinggian lebih dari 3m. Kampung ini berada pada belokan S.Cimanuk yang merupakan dataran banjir dari S.Cimanuk. Tidak didapati bongkah dan pohon/akar, yang terbawa oleh air, hanya lumpur dan material dari rumah yang rusak terbawa hanyut.

 

Garut 11 (041016)

(A)

Garut 12 (041016)

(B)

Foto 5. Erosi lateral di bagian hulu sungai Cimanuk, Bayongbong (a) dan sedimentasi di bawah pintu air bendung Copong, Banyuresmi (b)

 

Garut 13 (041016)

Foto 6.  Irigasi yang mendapatkan pasokan air dari Bendung Copong yang membendung S.Cimanuk. Air mengalir menerobos belokan sungai dikarenakan debit air yang sangat tinggi yang disebabkan oleh dibukanya seluruh pintu Bendung Copong.

 

Garut 14 (041016)

(A)

Garut 15 (041016)

(B)

Garut 16 (041016)

(C)

Foto 7. Desa Cijambe, Kecamatan Karangpawitan berada di bantaran S.Cimanuk, merupakan salah satu daerah yang terlanda cukup parah. Selain merusak rumah, sawah, mushola, juga merusak jembatan gantung yang menghubungkan  Desa Cijambe dan Desa Patrol di Kec. Banyuresmi