Laporan Singkat Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Tanggal 29 Mei 2017 Di Daerah Poso, Sulawesi Tengah

Bersama ini, kami sampaikan laporan singkat tanggap darurat bencana gempa bumi di daerah Poso, Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan lapangan oleh Tim Tanggap Darurat (TTD) Badan Geologi (BG), dan data sekunder dari USGS, GFZ dan BMKG sebagai berikut:
1. Parameter gempa bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Senin, tanggal 29 Mei 2017 pukul 14:35:23 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada di darat pada koordinat 1,28°LS dan 120,48°BT, dengan magnitudo 6,6 SR (Skala Richter) pada kedalaman 11 km, berjarak 38,75 km barat laut Kota Poso. The United State Geological Survey (USGS) merilis bahwa gempa bumi yang terjadi terletak pada koordinat 1,289°LS dan 120,452°BT, dengan magnitudo 6,8 Mw (moment magnitude) pada kedalaman 9,2 km dan berjarak 35,37 km barat laut Kota Poso. GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 1,27°LS dan 120,45°BT dengan magnitudo 6,5 Mw pada kedalaman 13 km dan berjarak 36,35 km barat laut Kota Poso.
2. Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi
Daerah yang terletak dekat dengan pusat gempa bumi, yaitu perbukitan komplek Pompangeo dan lembah Napu. Perbukitan Komplek Pompangeo tersusun oleh batuan metamorf dan batuan ubahan (alteration rock), sebagian batuan tersebut telah mengalami pelapukan. Lembah Napu pada umumnya disusun oleh endapan Kuarter terdiri – dari endapan aluvial sungai dan aluvial rawa. Batuan metamorf dan ubahan pada Perbukitan Komplek Pompangeo yang telah mengalami pelapukan dan endapan Kuarter tersebut pada umumnya bersifat lepas, lunak, urai, belum terkonsolidasi (unconsolidated), dan memperkuat efek goncangan, sehingga rawan terhadap goncangan gempa bumi.
3. Penyebab gempa bumi
Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan data mekanisme sumber dari USGS, GFZ dan BMKG, kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh sesar normal berarah barat - barat laut hingga timur - Tenggara. Berdasarkan data mekanisme sumber dari GFZ kedudukan sesar normal tersebut yaitu strike N 101o E, dip 52o, dan slip -94o.
4. Gempa bumi susulan
Gempa bumi susulan masih dapat dirasakan oleh masyarakat di Lembah Napu, Kabupaten Poso hingga tanggal 5 Juni 2017 dengan skala intensitas II hingga IV MMI (Modified Mercally Intensity). Berdasarkan data BMKG magnitudo kejadian gempa bumi susulan kurang dari 5,5 SR (Skala Richter) dan kedalaman kurang dari 30 km. Jumlah dan kekuatan kejadian gempa bumi susulan tersebut terus menurun, hal ini mengindikasikan bahwa blok batuan yang telah terpatahkan dan mengakibatkan terjadinya gempa bumi sedang menuju proses keseimbangan.
1
Gambar 1. Peta pusat gempa bumi utama menurut BMKG (bulatan merah muda), USGS (bintang merah muda), GFZ (persegi merah muda) dan sebaran kejadian gempa bumi susulan bersumber dari BMKG.
5. Dampak gempa bumi
Kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan bencana di Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah. Bencana terparah terjadi di daerah Lembah Napu, Kecamatan Lore Utara, sehingga kejadian gempa bumi tanggal 29 Mei 2017 disebut Gempa Bumi Napu Poso. Hasil pemeriksaan lapangan memperlihatkan bahwa kejadian gempa bumi ini tidak mengakibatkan terjadinya tsunami, karena pusat gempa bumi terletak di darat.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Poso dan pemeriksaan lapangan, daerah yang mengalami dampak gempa bumi Napu Poso meliputi Kecamatan Lore Utara, Lore Timur, Poso Kota, Poso Kota Utara, Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, dan Lore Peore. Menurut data BPBD Kabupaten Poso kejadian gempa bumi tersebut mengakibatkan 4 orang luka berat, 21 orang luka ringan, 211 bangunan rusak berat, 226 bangunan rusak ringan, 549 kepala keluarga dan 2.000 jiwa mengungsi.
Disamping mengakibatkan kerusakan bangunan, kejadian gempa bumi Napu Poso juga mengakibatkan kerusakan geologi berupa minor surface rupture, retakan tanah, gerakan tanah, dan likuifaksi (liquefaction). Minor surface rupture dicirikan adanya pergeseran tanah dan retakan tanah terdapat di RT 7, Dusun 3, Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara. Retakan tanah terdapat di Desa Alitupu, Wuasa, Dingidongi. Likuifaksi dicirikan munculnya pasir halus sepanjang retakan tanah dan gunung pasir (sand boil) terdapat di wilayah RT 06 dan RT 07, Dusun 3, Desa Wuasa. Longsoran terjadi di jalan perbukitan dari Kota Poso menuju Lembaha Napu. TTD BG mengidentifikasi 12 titik gerakan tanah di jalan perbukitan dari Kota Poso menuju Lembaha Napu. Gerakan tanah juga teramati di jalan trans Sulawesi antara Parigi dan Poso tepatnya di Desa Kawendo. TTD telah berdiskusi dengan Satker Dinas PU Provinsi Sulawesi Tengah berkaitan dengan upaya perbaikan jalan tersebut.
Skala intensitas maksimum kejadian gempa bumi tersebut melanda daerah Lembah Napu, Kabupaten Poso yang mencapai skala intensitas VI MMI (Modified Mercally Intensity). Hal ini dicirikan oleh terasa oleh semua orang dan lari keluar rumah, orang yang berjalan kaki terganggu, jendela berderit, barang pecah-belah pecah, barang-barang di atas meja dan ditempel di dinding berjatuhan, mebel-mebel bergerak atau berputar, plester dinding pecah dan jatuh, lonceng gereja berbunyi, terjadi retakan tanah dan likuifaksi. Berdasarkan pengamatan lapangan terlihat bahwa dampak gempa bumi yang terjadi, terletak pada kawasan rawan bencana gempa bumi menengah sesuai dengan peta kawasan rawan bencana gempa bumi Provinsi Sulawesi Tengah yang diterbitkan oleh Badan Geologi tahun 2014.
Selama melaksanakan kegiatan tanggap darurat gempa bumi, disamping melakukan pemetaan dan pemeriksaan dampak gempa bumi secara langsung di lapangan, TTD Badan Geologi juga melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Poso, Satker Jalan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tengah, pengukuran mikrotremor untuk mengetahui karakteristik tanah di daerah bencana, konferensi pers pada tanggal 5 Juni 2017 (Badan Geologi, Dekan Fakultas MIPA Universitas Tadulako), dan sosialisasi gempa bumi dan tsunami secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah setempat di daerah bencana. Kegiatan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat dan aparat setempat diikuti masing masing lebih dari 200 orang dibantu oleh Polres Poso dan Kecamatan Lore Utara dilaksanakan di Desa Sedoa, Wuasa, dan Watumeta. Kegiatan sosialisasi bertujuan untuk mengurangi keresahan/ kepanikan masyarakat terhadap isu seputar gempabumi, dan menghimbau kepada masyarakat yang rumahnya tidak mengalami kerusakan untuk kembali ke rumahnya masing – masing. Adapun bagi rumah masyarakat yang mengalami kerusakan dihimbau untuk tidur di tenda pengungsian. TTD BG mengunjungi kediaman keluarga Bapak Sinus Limba di RT 03, RW 01, Desa Wuasa yang mengalami trauma psikologi akibat kejadian gempabumi tersebut dikarenakan rumah beliau mengalami retakan lantai yang menurut TTD Badan Geologi masih layak untuk ditempati.
2
Gambar 2.Peta sebaran bahaya gempa bumi.
3
Gambar 3.Peta intensitas gempa bumi tanggal 29 Mei 2017.
6. Kesimpulan
  • Daerah Lembah Napu, Kabupaten Poso merupakan wilayah rawan gempa bumi, karena terletak dekat dengan sesar aktif yang terletak di darat. Daerah ini merupakan lokasi terparah terlanda gempa bumi, sehingga kejadian gempa bumi tanggal 29 Mei 2017 dinamakan Gempa Bumi Napu Poso.
  • Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2017 diakibatkan oleh pergerakan sesar normal berarah barat - barat laut hingga timur - tenggara.
  • Gempa bumi susulan masih mungkin terjadi, tetapi menunjukkan kecenderungan menurun, baik pada kekuatan magnitudo maupun frekwensinya. Hal ini mencerminkan bahwa blok batuan yang telah terpatahkan dan mengakibatkan terjadinya gempa bumi, sedang menuju proses keseimbangan.
  • Skala intensitas gempa bumi maksimum terjadi di daerah Lembah Napu, Kabupaten Poso yang mencapai skala VI MMI (Modified Mercally Intensity).
  • Kejadian gempa bumi Napu Poso tanggal 29 Mei 2017 telah mengakibatkan korban luka-luka, kerusakan bangunan, kerusakan sarana dan prasarana serta kerusakan geologi berupa minor surface rupture, retakan tanah, likuifaksi, dan gerakan tanah.
  • Kerusakan bangunan diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu : jarak yang dekat dengan sumber gempa bumi, bangunan yang dirancang tidak tahan gempa bumi (non engineering building), tersusun oleh endapan aluvial, serta terjadinya kerusakan geologi berupa minor surface rupture, retakan tanah, dan likuifaksi.
7. Rekomendasi
  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat dan tidak terpancing oleh isu yang menyesatkan tentang gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang energinya lebih kecil dari kejadian gempa bumi utama.
  • Bagi masyarakat yang rumahnya tidak mengalami kerusakan dihimbau untuk kembali ke rumahnya masing – masing. Adapun bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan dihimbau untuk tidur di tenda pengungsian.
  • Data dari Badan Geologi agar dipergunakan pada tahap berikutnya, yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi.
  • Melakukan relokasi pada rumah penduduk yang terlanda minor surface rupture yang terdapat di RT 7, Dusun 3, Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara.
  • Bagi masyarakat yang rumahnya terletak pada zona likuifaksi di wilayah RT 06 dan RT 07, Dusun 3, Desa Wuasa, dapat membangun kembali rumahnya dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempabumi atau membuat rumah panggung berbahan kayu.
  • Pemerintah Kabupaten Poso agar melakukan upaya mitigasi gempa bumi, secara strukural dan non struktural untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gempa bumi sehingga dapat mengurangi risiko bencana gempa bumi. Berdasarkan pemeriksaan lapangan, masyarakat di daerah bencana belum pernah mendapatkan sosialisasi, simulasi dan pelatihan gempa bumi.
  • Bangunan vital, strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang agar dibangun mengikuti kaidah – kaidah bangunan tahan gempa bumi.
  • Hindari membangun pada tanah rawa, sawah dan tanah urug yang tidak memenuhi persyaratan teknis, karena rawan terhadap goncangan gempa bumi.
  • Hindari membangun pada bagian bawah, dan lereng terjal yang telah mengalami pelapukan dan kondisi tanahnya gembur karena akan berpotensi terjadinya gerakan tanah/ longsor bila digoncang gempa bumi.
  • Agar Pemerintah Kabupaten Poso segera merevisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) berdasarkan peta kawasan rawan bencana geologi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencakup bencana gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah.
  • Agar Pemerintah Kabupaten Poso memasukkan materi kebencanaan geologi (gempa bumi, tsunami, gerakan tanah) kedalam kurikulum pendidikan agar para guru dan pelajar dapat memperoleh pengetahuan tentang mitigasi bencana geologi.
4
Gambar 4. Mendampingi Gubernur Sulawesi Tengah dan Bupati Poso diwawancara oleh wartawan.
5

Gambar 5. Diskusi dengan Bupati Poso terkait upaya mitigasi gempa bumi.

6

Gambar 6. Diskusi dengan Kalakhar BPBD Kabupaten Poso terkait tanggap darurat gempa bumi Poso.

7
Gambar 7. Memperlihatkan gejala likuifaksi kepada pimpinan BNPB di Desa Wuasa.
8
Gambar 8. Sosialisasi gempa bumi malam hari tanggal 1 Juni 2017 di tenda pengungsian Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara.
9
Gambar 9. Sosialisasi gempa bumi tanggal 2 Juni 2017 di Desa Watumeta, Kec. Lore Utara.
10
Gambar 10. Bongkah batuan ubahan yang jatuh akibat gempabumi 29 Mei di perbukitan jalan rute Poso ke lembah Napu.
11
Gambar 11. Indikasi minor surface rupture berarah N 340 E di Desa Wuasa.
12
Gambar 12. Retakan tanah dan likuifaksi mengakibatkan kerusakan rumah penduduk di Desa Wuasa.
13
Gambar 13. Bersama Kades dan tokoh masyarakat Desa Wuasa setelah melakukan pemeriksaan di rumah Bpk Reli Pole di RT 06, RW 02 Desa Wuasa yang rumahnya miring akibat likuifaksi dan tidak layak huni.
14
Gambar 14. Longsoran akibat gempabumi di Desa Kawendo pada jalan trans Sulawesi antara Parigi dan Poso.
15
Gambar 15. Mengunjungi Bpk Sinus Limba yang mengalami trauma psikologi akibat gempabumi 29 Mei 2017 di RT 03, RW 01, Desa Wuasa. Setelah diperiksa kondisi rumahnya beliau berkurang traumanya.